Ini Resto yang di Wang fu jing, liat papan namanya, gak ngerti...Udang kuahnya, waaawwBebek peking, sayuran dan kuah dimaksud, bikin keleleranAda dua anekdot yang memang kalau dipikir lagi banyak benarnya juga mengenai bertravelling ke China. Pertama, belum dianggap mengunjungi China kalau belum ke Great Wall atau Tembok Besar China dan satu lagi juga sama, belum dianggap ke China kalau belum nyobain masakan bebek peking khas China. Dua hal tersebut sifatnya wajib dan kudu alias harus untuk menggenapkan acara jalan – jalan ke China.

Dua hari menjelang pulang ke Indonesia, di Beijing saya mencari restoran bebek peking untuk jadi sasaran saya. Berbekal peta panduan turis di Beijing yang saya dapatkan di toko buku di area perbelanjaan Wang Fu Jing, saya memeriksa restoran bebek peking yang direkomendasikan.  Dalam peta panduan tersebut, restoran bebek peking yang kayaknya direkomendasikan enak adalah retoran Quan Ju De Peking Duck. Resto tersebut memiliki beberapa cabang yaitu di Wang Fu Jing, He Ping Men dan banyak cabang di tempat lain. Salah satu cabangnya yang di Wang Fu Jing berada dekat dengan lokasi hostel saya, jadi sasaran telah dikunci, target lock in.

Bersama dua kawan lain, kami pun memutuskan untuk mencari resto dimaksud untuk makan malam, tentu saja membawa peta petunjuk jalan. Ternyata rada susah juga menemukan resto dimaksud. Sekitar 30 menitan kami bolak balik di area yang kami pikir disitulah seharusnya resto tersebut berada di kawasan belanja Wang Fu Jing. Tapi kami susah sekali menemukannya. Tanya beberapa orang juga terkendala bahasa. Karena perut sudah gak bisa kompromi lagi, akhirnya diputuskan bersama untuk masuk saja ke resto bebek peking yang kami anggap memang ini yang ada di peta itu, tapi koq nama jalannya beda ya. Ah sudahlah, mudah – mudahan gak salah. Kenapa mudah – mudahan? Soalnya tulisan nama resto nya pake hurufnya China, jadi ya kira – kira aja.

Masuk ke resto dimaksud, kami ambil meja di depan dekat jendela yang mempunyai view ke jalan. Resto kelihatannya ramai. Ada beberapa turis bule juga kelihatannya. Pelayan memberikan buku menu, tentu saja dengan tulisan yang tidak kami mengerti. Namun buku menu nya disertai gambar, syukurlah. Kami tunjuk saja gambar bebek peking. Memilih menu di resto China yang non muslim agak susah juga. Kehati – hatian mesti di utamakan. Maklumlah, takut gak halal makanannya karena kami muslim.

Ahirnya dari sekian banyak makanan menggiurkan, kami memilih area aman saja, “seafood”. Mana ada seafood babi? Hehehe, gak ada kan. Seafood yang gambarnya menarik kayaknya udang kuah pedas, well, menggiurkan sekali. Tidak lupa kami memesan nasi, ya nasi. Tapi si nasi ini tidak ada di gambar di buku menu nya. Mungkin karena nasi sudah tidak perlu dipesan lagi, alias otomatis. Mungkin. Tapi saya ingin memastikan supaya kami dapat nasi, jadi saya bilang sama mbak – mbak pelayannya, “rice..please”. Anda tahu, untuk menyelesaikan urusan “rice” ini ternyata butuh waktu 5 menitan supaya pelayan resto paham kami mau rice. Apa ? kata dia, tentu saja dugaan saya saja, karena dia ngomong bahasa China. Rice, kami menjawab lagi sambil menggerak –gerakan tangan ke mulut, maksudnya gerakan makan. Dia bingung… tentu saja, apalagi saya, lebih bingung.

Saya keluarkan kamus mini dari saku saya, berusaha mencari kata “nasi” di bab “memesan makanan di restoran”. Tidak ketemu. Saya celingukan, nyari orang yang makan nasi. Ternyata memang yang lain banyak yang makan nasi. Saya tunjuk – tunjuk, like that ! like that! Dia masih bingung. Akhirnya dia panggil temannya yang laki – laki. Pelayan laki – laki ini ternyata bisa bahasa inggris kayaknya. Kami bila “rice for three”. Dia mikir sebentar,  terus bilang. “ooooh, rice..! (yang ditelinga saya terdengar : raisze, hehe).

Menunggu 10 – 15 menitan , pesanan kami datang. Waahhh, dari penampakannya saja sudah menggoda selera. Makanan panas di udara malam Beijing yang dingin, tak bisa dijelaskan dengan kata – kata deh. Langsung saja tanpa aba – aba (ya iya lah, emang bala karung pake aba – aba) dan tanpa mengingat warna dan merk celana dalam saya, kami langsung berjibaku dengan makanan yang ada.

Bebek peking disajikan dalam piring berbentuk bebek juga. Kayaknya sajian bebek peking, menurut kebiasaan disini tidak dimakan langsung irisan bebeknya. Tapi seperti bikin martabak. Ada kulit dari tepung, ada sayuran (entah apa namanya, tapi rasanya tidak terlalu enak) dan ada semacam kuah kental yang mirip – mirip bumbu rujak (sama juga, bagi saya kurang enak, rasanya manis – asem – aneh).

Pelayan memberikan petunjuk dengan melakukan geraan – geraan mencontohkan. Ambil kulit, masukan irisan bebek, kasih sayur, kasih kuah. Saya coba, ikutin, hasilnya kurang memuaskan. Berikutnya saya dan teman2 tidak pake kulit-sayuran-kuah lagi, tapi langsung ambil irisan bebeknya saja. Dan apa yang teradi sodara – sodara, ternyata bebek pekingnya saja tanpa disertai apapun rasanya sangat endang s taurinaaaa. Alias uennaaakk. Susah sekali menjelaskan dengan kata – kata. Tapi demi anda semua, saya akan coba jelaskan deh. Bebek peking memang disajikan dengan kulit bebeknya dibagian luar dan daging dibagian dalam. Kulit bebeknya itu diluar garing tapi basah, manis, gurih bercampur rasanya. Masuk ke mulut kita, serasa kulit tersebut lumer meleleh seperti es. Setelah meleleh terasa daging bebeknya yang lezat, empuk dan  gurih. Dalam kata singkatnya, memberikan sensasi lumer dan meledak dimulut hehe.

Lanjut ke seafood udang kuah. Ternyata….. oh my god, enaknya bangetz, waaaaahhh, pengen nangis pokoknya saking enaknya. Terharu gitu. Udang dimasak dengan potongan kentang dan beberapa sayuran dengan bumbu – bumbu diantaranya cengkeh dan beberapa sayuran (lupa sayuran apa) dengan kuah kental berminyak yang manis –asin-rada pedas. Sangat lezat sekali. Disajikan dalam panci besar dengan api dibawahnya untuk menjaga masakan tetap panas. Sungguh suatu penampakkan dan prestasi koki luar biasa bagi saya. Pokoknya endang sriningsih yuliawati dehh. Saking enaknya, sampe pengen cuci muka pake kuah udang nya wakakak.

Setelah kenyang makan kami lanjutkan pulang ke hostel yang terletak tidak jauh, sekitar 1 Km an deh. Total makan di resto sekitar kurang dari 200 yuan. Dan, kami bertiga juga berencana besoknya akan makan disini lagi.