Padahal baru 4 hari di Hong Kong, tapi udah kangen sama masakan Indonesia. Ada yang kangen sama bakso, masakan padang sampe nasi pecel hehe. Jadi, kami putuskan sebelum pulang lagi ke Indonesia kita mesti icip – icip makanan indonesia di Hongkong. Terlintas di benak, minggu pagi di Victoria Park…, sering diberitakan di TV nasional kalau hari minggu di Victoria Park sering berkumpul sodara kita para tenaga kerja wanita Indonesia (tkw).

Karena jadwal pesawat pulang ke Jakarta sore, jadi kami sempatkan minggu pagi jalan – jalan ke Victoria Park. Keputusan yang akhirnya saya syukuri. Berangkat sekitar jam 8 lewat dari hotel menggunakan metro subway ke Victoria Park. Victoria Park terletak di Pulau Hongkong, jadi kalau dari Tsim Sha Tsui (TST) mesti melewati tunnel bawah laut untuk nyampe kesana kalau pake metro subway. Sampe Victoria Park sekitar jam 9 pagi. Waktu tempuh metro subway sebenernya sebentar, sekitar 15 menit. Cuma jalan kaki sana sini nya yang lumayan lama. Sampe di Victoria Park suasana terlihat sepi, … heran juga.

Kami terus saja masuk mencari keramaian para tkw yang sering diberitakan itu. Baru masuk sedikit area Victoria Park, ada 4 gadis muda lewat dekat kami. Dari wajahnya dan postur tubuh serta gerak gerik, saya langsung bisa menebak, …. they are Indonesian !, eta urang endonesia !. Wajahnya itu loh, wajah indonesia, gak akan salah deh. Langsung aja di sergap, “mbak orang Endonesia ya?” iya mas, jawab mereka. Katanya kalau minggu pagi banyak orang Indonesia di Victoria Park sini, di mana ya? Kami juga nyari makanan khas Indonesia, katanya disini banyak dijual sama temen – temen tkw. Mereka menjawab antusias sekali. Oh ya, diantara kami ada cowok 3 orang, yang baru belakangan akan saya sadari bagaimana jika ada cowok sekeren saya di Victoria Park.

Akhirnya setelah foto – foto bersama teman baru tkw tadi, kami diantar oleh mereka ke area Victoria Park yang ramai. Maklumlah, taman victoria ini luas, nggak kayak alun – alun di Indonesia yang kecil. Jadi ada beberapa area taman yang memang mempunyai fungsi yang berbeda. Selanjutnya kami terbagi menjadi 2 grup. Grup saya menjelajahi Victoria Park, grup lainnya mau nyari rumah makan padang yang menurut info dari mbah google ada di dekat Victoria Park, kira2 1 blok dari Victoria Park dan selanjutnya katanya mau nyari hard rock cafe hongkong juga yang konon katanya ada di Pulau Hongkong.

Sampai di area yang ditunjukkan teman tkw tadi, ternyata tidak bukan dan tidak salah alias benar adanya, ternyata yang mana daripada ruameeee banggeeeet. Sejauh mata memandang, …..wanita…., ya bener, wanita. Memang disini berkumpul teman – teman tkw indonesia. Ada banyak aktivitas para tkw disini. Sangat positif sekali, mereka mengisi waktu liburan mereka dengan berbagai hal – hal positif. Ada perkumpulan seni, ada grup yang berlatih tata rias, ada grup yang berlatih bahasa inggris, ada grup kursus menari, dan lainya. Ada juga yang hanya berjalan – jalan hilir mudik. Ada yang membuat grup – grup diskusi. Semua sudah taman diisi aktivitas – aktivitas para tkw. Mungkin mereka saling sharing keterampilan dan keahlian yang bisa membantu satu sama lain.

Yang menarik saya melihat ada (menurut saya) banyak juga pasangan wanita. Apakah bisa disebut pasangan lesbian? I dont know. Saya lebih suka menyebutnya “pasangan wanita”. Pasangan wanita ini tentu saja satu berpenampilan seperti lelaki dengan rambut cepak, gaya macho. Satunya lagi berpenampilan wanita. Mereka pada mojok dan kelihatan mesra di mata saya. Itulah yang saya maksud, “diantara kami ada 3 cowok”, that’s counting, sangat diperhitungkan hehehe.

Selama saya berjalan menjelajahi Victoria Park dan melihat – lihat aktivitas para tkw, saya merasa bahwa saya dan teman saya yang jadi objek perhatian, terbalik. Saya baru menyadari kalau ternyata jarang ada lelaki disini. That’s why. Kami selalu disapa ramah oleh para wanita – wanita yang ada disitu. “halo maaass, mampir sini..” Saya jadi geer sekaligus senang hehe.

Dan ternyata …. yang dicari – cari ternyata banyak tersedia disini, yaitu makanan Indonesia !!!. yang menjual makanan – makanan ini yaaa para tkw. Area makanan yang saya lihat tidak berada di dalam taman victoria, tetapi di trotoar di pinggir jalan samping Victoria Park. Sepanjang trotoar tersebut banyak sekali makanan khas Indonesia. Ada bakso, pecel, es campur, gorengan, soto, nasi uduk, you name it !. Makanan tidak dijajakan dengan gerobak atau roda, tetapi digelar diatas trotoar saja. “ayo mas mampir, makan disini”, “silahkan mas sini..” Begitulah sepanjang kami berjalan di sela – sela trotoar yang dijadikan pasar kaget itu.

Setelah beberapa waktu celingak – celinguk nyari makanan yang sesuai, akhirnya mengingat-menimbang dan memutuskan, ibu – ibu tersangkut di penjual bakso, saya dan 1 bapak – bapak lain tersandung gadis penjual pecel hehehe. Makan pecel, bakso dan minuman es buah segar di udara hongkong yang terbilang panas utk bulan Juni. Makan nya sambil duduk di trotoar, suasananya jelas kayak bukan di Hongkong, asli kayak di Indonesia.

Sambil makan tentunya tanya – tanya banyak hal sama mbak – mbak yang ramai bercengkerama disitu. Pertanyaan standar pertama, asalnya darimana?? Jawaban cukup banyak. Ada yang dari Cimahi Jawa Barat, Jawa Tengah, NTB, Sumatera, dan lain – lain.”Gak dimarahin petugas keamanan jualan disini?” Sebenernya gak boleh mas kita jualan. Tapi ya gak apa – apa lah, buat nambah – nambah penghasilan dan meramaikan aktivitas disini. Ternyata hari minggu merupakan hari libur bagi para tkw di Hongkong. Semua jawaban mereka menyebut kalau mereka betah tinggal di Hongkong. Berbeda jauh sekali dengan nasib saudara – saudara kita yang kerja di negeri tetangga dan di negeri Arab. Disini mereka mendapatkan hak – hak nya. Pemerintah dan warga Hongkong kelihatannya juga menghormati hak – hak para tkw. Bahkan sebagian diantara mereka mengatakan kalau mereka ingin tinggal di sini saja alias pengen jadi warga Hongkong. Katanya, kalau bisa menikah sama orang sini biar bisa jadi WN Hongkong hehe.

Setelah cukup kenyang makan dan minum diselingi ngobrol ngalor ngidul, tidak terasa waktu sudah siang. Kami harus segera kembali ke hotel dan mengejar jadwal pesawat ke Jakarta. Pengalaman yang sangat menyenangkan “minggu pagi di Victoria Park”. Aneh juga, jauh – jauh pergi ke Hongkong ternyata yang menyenangkan mendapatkan “suasana” Indonesia hehe. Yo wis lah, podo wae. Selamat tinggal Victoria Park, sampai ketemu lagi lain kali.