Perjalanan ke Hongkong ini kami rencanakan agak panjang dan lama mengikuti rute AIR ASIA. Yup, Jakarta – Medan – Hongkong. Hongkong – Medan – Jakarta lagi hehe. Salahsatu alasan kami melihi rute via Medan adalah biar bisa lihat – linat Kota Medan juga. Sekali merengkuh dayung, 23 pulau terlampaui (padahal perahunya pake motor tempel hehe). Sekali jalan – jalan, Medan, Hongkong dan Shenzen bisa di capai gitu loh.

Tiket Medan – Hongkong sudah kami beli duluan, yang pertama. Menggunakan maskapai langganan selama bertravelling ke luar yaitu AIR ASIA. Tiket Medan –  Hong Kong didapet dengan harga Rp. 1.940.000 per orang bolak balik. Itu sudah termasuk makan dipesawat, pajak bandara di Hongkong ke Medan plus bagasi 20 Kg untuk pulangnya yang kemudian saya sesali karena saya tidak pesan bagasi lebih banyakdi internet pas booking. Believe me, lebih baik beli bagasi per per orang 15 – 20 kg pas booking jika anda akan travelling ke Hong Kong, soalnya Hong Kong itu surga belanja. Harga tiket belum termasuk pajak bandara di Polonia Medan.

Selanjutnya tiket Jakarta – Medan dan Medan – Jakarta dihunting dibeberapa maskapai. Akhirnya dapet juga tiket agak murah di Garuda Citylink yang gaul dan cool. Tiket Jakarta – Medan sberkisar di harga 400 ribu – 700 ribu. Lebih awal melakukan pemesanan, lebih murah. Bukannya kami tidak ingin penerbangan langsung dari Jakarta ke Hong Kong, tapi apadaya dompet menolak. Lebih baik pake AIR ASIA aja lewat Medan, selisih harga tiketnya buat belanja di Hong Kong hehehe.

Selanjutnya kami mencari Hostel atau Hotel buat menginap selama disana. Lokasi kami tetapkan bersama ingin berada di sekitar Tsim Sha Tsui (TST) di Daerah Kowloon. Kenapa disitu ? pertimbangannya supaya deket ke tempat – tempat belanja dan tempat – tempat lainnya yang menjadi spot turis. Jadi kami pikir akan bisa menghemat uang transportasi selama disana karena kami bisa jalan kaki dari tempat menginap ke lokasi wisata atau lokasi belanja.

Setelah searching and googling berhari – hari, akhirnya pencarian mengarah ke “Chungking Mansion” dan “Mirador Mansion” untuk kelas hostel, “Eaton Hotel” dan “Guangdong Hotel” untuk kelas hotel. Perllu digarisbawahi jika anda mencari hostel di Hong Kong via website terutama di daerah Kowloon dan sekitarnya, gambar kondisi hostel (ruangan , interior, dan eksterior) belum tentu mewakili hostel itu yang sebenarnya.

Mendengar nama “Chungking Mansion” dan Mirador Mansion” yang legendaris (sampe ada film layar lebarnya loh), akhirnya kami pesan salah satu hostel di Mirador yang paling direkomendasikan oleh para pengunjung – pengunjung sebelumnya dengan membaca “guest comment” di web Hostelworld. Guest comment berisikan “bersih, aman, ruangan agak kecil, tapi strategis”. Akhirnya kami pesan untuk 4 hari selama kami disana dengan biaya HK $ 4622 untuk 4 malam, 4 kamar. Itu artinya sekitar Rp. 330.000 per malam untuk 1 kamar. Well… termasuk mahal dibandingkan di Indonesia atau China. Disini dengan harga segitu bisa dapet hotel bintang 3.

Belakangan, sekitar seminggu sebelum keberangkatan, saya membaca info di salah satu blog, bahwa kita jangan terlalu berharap banyak mendapatkan kamar yang luas di Hong Kong. Apalagi sekelas hostel. Kenapa begitu ya? Setelah di browsing ternyata harga tanah di Hong Kong itu sangat mahal dikarenakan negerinya yang kecil. Apalagi di daerah Kowloon dan sekitarnya (Nathan Road yang terkenal itu). Sehingga memang bangunan – bangunan disana memanfAir Asiatkan semaksimal mungkin tanah yang ada. Walhasil demi alasan kenyamanan dan kenikmatan tidur dan istirahat setelah jalan – jalan seharian di negeri orang, kami akhirnya batalkan pemesanan hostel untuk 2 hari terakhir. So, di hostel kami hanya nginep 2 malam saja, selanjutnya move to hotel hehehe, yang mana daripada sangat mahal room rate nya. But it’s oke lah, cing cay lah.

Hotel kami pilih gak jauh – jauh dari Nathan Road yang paling strategis hehehe. Masih di Nathan Road, tetapi geser lebih ke utara disekitaran kawasan Jordan deket Mongkok dan Yau Ma Tei, kurang lebih 2 Km sebelah utara Mirador TST. Jangan tanya deh berapa room ratenya. Apalagi kami nginep pas malam sabtu dan malam minggu pas week end. Pokoknya kalo dipake nginep di Medan, bisa nginep di Hotel Mak Errots yang bintang 5 hehehe (sorry nyebut merk). Sekali lagi…. demi kenyamanan dan kesehatan. Tapi akhirnya belakangan keputusan untuk menginap di hotel sangat kami syukuri.

Berangkat dari Jakarta jam 7 pagi menuju Medan. Perjalanan Jkt – Medan memakan waktu 2 jam 10 menit. Sampe di Medan jam 10 pagi. Pesawat AIR ASIA Medan – Hong Kong baru berangkat jam 14:20. Jam 14:20 pesawat AIR ASIA kami take off menuju Hongkong  International Airport. Sekedar info, pajak bandara untuk keberangkatan internasional di Polonia adalah Rp. 75.000 saja.

Perjalanan Medan – Hong Kong ditempuh selama 4 jam 50 menit. Cukup pegel juga di pesawat meskipun pesawat AIR ASIA Medang – Hong Kong cukup bagus. Pesawat baru kayaknya. Pesawat tiba di Hongkong  International Airport yang terletak di Pulau Lantau jam 20:10 waktu setempat di Terminal 2. Waktu di Hong Kong 1 jam lebih cepat dibanding Jakarta atau Medan. Dari Bandara menuju TST bisa menggunakan Kereta (MTR), Taxi atau Bus. Paling murah tetapi tetap nyaman tentunya pake Bus nomor punggung A21. Tiket bus hanya HK$ 33 per orang. Bus adalah bus 2 tingkat yang nyaman. Tiket bus dapat dibeli dekat halte bus di Terminal 2 Bandara tersebut.

Perjalanan dari Bandara menuju TST dengan Bus kurang lebih sekitar 40 menit – 60 menit karena bus banyak berhenti di sepanjang perjalanan menuju TST. Saya mengira harga tiket bus jauh dekat sama. Tiba di TST kami turun di halte East Tsim Sha Tsui. Dari situ ke Mirador kurang lebih sekitar sepeminuman teh hehehehe, wiro sableng kaliii. Berjalan menuju Mirador, kami melewati Chungking Mansion dan kami dikerubuti orang – orang kulit hitam yang menawarkan hostel. Ada juga orang India dan Pakistan yang menawarkan makanan halal.

Mirador Mansion merupakan bangunan besar ex apartemen kayaknya dimana digedung tersebut banyak sekali hostel – hostel dan bahkan ada kelas kungfu IP Man hehehe.Dilantai paling dasar dari gedung ini digunakan untuk toko – toko yang menjual cindera mata khas Hong Kong (kaos, magnet kulkas dan pernak – penik lain), money changer, toko tas dan lain sebagainya.

Symphony of Light

Symphony of Light