Yup, Hostel tempat nginep kami, papan namanya informatif bgt

Tiket sudah ditangan, hostel sudah book by internet. Saatnya menyiapkan perlengkapan musim dingin buat “survive” di musim winternya China. Saran saya sebaiknya dari Indonesia bawa pakaian musim dingin secukupnya saja. Asal ada jaket, sweater, sarung tangan, topi dan syal itu sudah cukup. Nanti di China banyak pilihan perlengkapan musim dingin yang modelnya bagus – bagus. Jadi beli disana aja. Jangan lupa bawa baju “longjhon” kalau mau nyaman. Kalaupun di Indonesia susah dapetinnya, di minimarket atau toko – toko baju di Shanghai dan Beijing, baju longjhon biasa dijual koq. Harganya sekitar 80 – 90 yuan udah dapet yang bagus.

Selanjutnya yang perlu diurus adalah Visa kunjungan ke China. Kami tidak mengurus visa di Kedubes China nya langung.  Tapi kami mengurus visa di Gedung The East di kawasan Mega Kuningan Jakarta.  Pengurusan visa ini dapat diwakilkan sama orang lain. Jadi kalau mau bikin visa rombongan, yang ngurus ke Jakarta cukup perwakilan saja. Biaya pembuatan visa bervariasi tergantung jenis kunjungan kita dan mintanya ekspress atau biasa. Kalau jalur normal pengurusan visa sekitar seminggu dengan biaya Rp. 540 ribu untuk visa satu kali kunjungan selama maksimal 30 hari. Harga tersebut sudah termasuk administrasi kantor baru (ya The East itu) sebesar Rp. 240 ribu.

Untuk urusan nginep, saya lebih memilih hostel dengan pertimbangan : lokasi pasti strategis, bisa banyak ketemu sesama backpacker atau flashpacker dan…. murah. Pemesanan kamar hostel bisa dilakukan lewat beberapa situs terpercaya seperti hostelwolrd atau ……

The Day

Tibalah hari yang ditunggu – tunggu berbulan – bulan lamanya. Setelah menyelesaikan surat cuti (Alhamdulillah akhirnya bisa cuti hehehe) di kantor, maka pergi berlibur menjadi lebih mantap, lebih apdol. Perjalanan dimulai dari Terminal Keberangkatan International Bandara Sukarno – Hatta menggunakan pesawat Air Asia Boeing 737 ke Kuala Lumpur. Berangkat dari Jakarta jam 8:30 pagi, nyampe KL jam 11:30 waktu setempat. Perjalanannya sih cuma sekitar 1,5 – 2 jam. Tapi ada beda waktu 1 jam antara Jkt dgn KL.

Selanjutnya bengong 4 – 5 jam di LCCT KL nungguin pesawat lanjutan ke Hangzhou yang akan berangkat jam 17:25. Meski Cuma transit, tapi tetep aja harus ngantri di imigrasi. Sebenernya kalau mau bisa jalan – jalan ke KL pake kereta sambil nunggu pesawat berangkat, tapi nggak deh, makasih. Akhirnya pesawat kami tujuan Hangzhou berangkat sesuai jadwal jam 17:25. Pesawat lanjutan ini beda dengan pesawat yang dari Jakarta. Pesawat KL – Hangzhou adalah Air Asia X yaitu Airbus dengan 9 kursi per baris dan 2 lorong.

Pesawat tiba di Bandara Xiaoshan di Hangzhou jam 22:25. Saya masih saja belum mengeluarkan peralatan anti dingin saya karena saya anggap gak terlalu dingin soalnya dipesawat biasa – biasa aja hehehe. Tapi begitu turun dari pesawat ke terminal, langsung terasa udara dingin menyergap seluruh badan. Sssssseeettttt ….. waaawwww. Langsung saja saya dan temen2 buka ransel mengeluarkan syal, sarung tangan, kupluk dan lain – lain dengan tergesa.

Mengantri di imigrasi tidak terlalu lama. Petugas imigrasi tidak bertele – tele, langsung jebredd aja ngecap passport saya setelah membaca beberapa detik. Gak tau apa karena sudah malem atau memang Pemerintah China sedang gencar – gencarnya mengundang turin berkunjung ke China. Kartu kedatangan dan keberangkatan di China ternyata tidak diberi stempel oleh petugas imigrasi. Saya sempat nanya sama penumpang lain yang kebetulan orang Indonesia, “mas, kartu keberangkatan buat nanti emang gak di cap ya?” Soalnya saya khawatir nanti pas mau keluar China kartu keberangkatan gak ada cap malah jadi masalah. Tapi setelah tanya kebeberapa orang dan melihat teman – teman rombongan saya semua juga gak ada yang dicap, maka yakinlah saya bahwa tidak perlu di cap.

Bandara Xiaoshan kalau di kita kira – kira segede Bandara Juanda Surabaya lah. Ukuran sedang dengan arsitektur modern. Bandara sudah sepi waktu kami datang. Bus kota kayaknya sudah tidak ada lagi. Diluar bandara nampak sepi, hanya ada beberapa orang dan petugas bandara. Sebenernya jelas kami bingung mau naik apa untuk nyampe ke Hostel. Bus kota sudah gak ada, taxi gak kelihatan juga. Lagi bingung gitu, langsung kami di hampiri sopir taxi “gelap” yang berkulit putih (ya iya lah). “Taxi … taxi, where are you going” dengan logat China. Kami tunjukkan aja alamat hostel kami yang sudah disiapkan dengan tulisan kanji China dan ada peta nya meski kurang jelas. Sopir taxi minta 200 yuan, tapi hasil browsing kami di internet katanya Cuma 60 yuan, jadi kami tolak. Terus ada lagi sopir taxi cewek, minta 150 yuan, tolak lagi.

Ternyata deretan taxi ada di gedung seberang tempat kedatangan kami. Dugaan kami taxi resmi berderet disitu dan ada petugas bandara yang memantau sehingga kami tidak akan tertipu. Maka kami segera menuju kesana. Tapi dasar bingung, pas lagi jalan ke arah barusan taxi, kami dirayu lagi oleh sopir taxi gelap yang akhirnya menawar di angka 120 yuan. Karena sudah lelah dan sudah malam, maka kami terima tawaran sopir taxi yang kami kira taxinya resmi dan ada disitu.

Ternyata ….. ya ampuuunn, sama kayak di SUTA, di China juga ada berkeliaran taxi gelap (mobil pribadi yang dijadikan taxi). Sopir taxi gelap itu membawa kami berjalan terlebih dahulu. Saya tanya, “where is your car?” dia jalan aja terus. Mobil taxi gelapnya ternyata lumayan juga. Perjalanan dari Bandara Xiaoshan ke Hostel kami kurang lebih memakan waktu 30 menit melewati jalan tol yang kosong melompong. Nasib… nasib, pertama datang udah ketipu sopir taxi. Emang untuk jarak segini wajarnya tarif Cuma 60 yuan, sedangkan kami bayar 120 yuan..

Mencari hostel tempat kami akan menginap lumayan susah juga. Sopir taxi sudah kami kasih peta hasil unduh saya di web hostelnya. Tapi sopir taxi kayaknya gak yakin . Untunglah di peta tersebut ada spot terkenal yaitu salah satu universitas di Hangzhou. Sopir taxi pun akhirnyamengira – ngira lokasi hostel kami. Dia bilang (dalam bahasa China of course) yang kami kira – kira terjemahkan artinya “sekitar disini” sambil dia menepikan mobilnya. Jam 12an malam di negeri orang di tengah udara dingin menggigil akhirnya kami kuatkan hati untuk turun dari taxi dan membayar sesuai perjanjian.

Mata kami menyisir area tempat kami diturunkan, namun kami tidak menemukan nama hostel kami, “Hangzhou International Youth Hostel”, where are you… Kebetulan ada orang lewat di sekitar kami bengong. Segera teman kami menanyakan lokasi hostel dimaksud kepada beberapa orang, ……. dan … ternyata hostelnya hanya sekitar 30 meter dari lokasi kami diturunkan taxi. Tapi mungkin karena sopir taxi kami bukan sopir taxi sejati (taxi gelap) dan juga mungkin hostel nya tidak terlalu besar seperti hotel, maka sopir taxi tidak tahu persis lokasinya. Dan juga yang sangat bikin saya kaget banget, ternyata tulisan nama hostel di depan hostelnya menggunakan tulisan kanji China…. hehehehe… yup, that’s right. Ini China bung ….. hehehe.

Bandara Xiaoshan malam hari, dingiiin...