Kendala utama yang membuat kita linglung kalau bertravelling ke China adalah BAHASA. Disamping bahasanya yang “fu sing tu zu xe ling ling” (tujuh keliling maksudnya), ditunjang lagi oleh tulisannya pake huruf kanji, lengkap sudah permasalahan. Jadi kalau mau berangkat kesana, sebaiknya dari Indonesia udah bikin sendiri kamus mini mengenai kata – kata yang umum dipakai beserta tulisannya.

Ada pengalaman lucu sekaligus bikin keqi saya dan temen – temen waktu di Beijing Januari kemarin. Waktu kami pulang dari Ba-Da-Ling (Salah satu section Greatwall yang paling umum dikunjungi turis), kami pulang sore pas waktunya jam pulang kerja. Jangan tanya deh kalau di Beijing itu pas rush hour kayak gitu paling susah dapetin taxi. Maklumlah Beijing merupakan salahsatu kota dengan penduduk terbesar di dunia.

Rencananya pulang dari Ba-Da-Ling kita mau pakai Kereta. Jadwal kereta Ba-Da-Ling ke Beijing memang Cuma 2 kali sehari jadi harus menyesuaikan jadwal main sama jadwal kereta. Selain waktu tempuhnya yang cepet  tiketnya juga murah. Trus di Beijingnya deket lagi dari stasiun ke Hostel kami.  Tapi apa daya kita terlambat menuju stasiun keretanya di Ba-Da-Ling karena keasyikan jalan – jalan di Greatwall-nya. Maklumlah namanya juga baru pertama ke Greatwall, jadi kita puas – puasin menikmati semua sensasi Greatwall. Ibaratnya, kalau badan ini kuat, mungkin saya mau jelajahin Greatwall sampai ujung (hehehe, gak mungkin ah, kan panjangnya ribuan KM).

Karena terlambat ngejar kereta, kita akhirnya menggunakan Bus untuk kembali ke Beijing, sama seperti waktu saya berangkat dari Beijing ke Ba-Da-Ling. Bus nya hanya datang kira – kira setiap 30 – 40 menitan sekali. Jadi saya dan teman – teman terpaksa berdiri menunggu bus sambil menahan dingin datang diudara – 8o C. Supir – supir taxi dengan cekatan merayu – rayu kami supaya pakai taxi aja ke Biejing. Tarif yang ditawarkan 150 sd 200 Yuan. Padahal naik Bus Cuma 12 yuan per orang. Sopir taxi sempet nakut – nakutin dengan mengatakan kalau bus dari Ba-Da-Ling ke Beijing sudah gak ada jam segini. Kita bertahan aja memilih naik bus, dengan alesan buat cari pengalaman dan sensasi naik angkutan umum dinegeri orang. Padahal buat berhemat hehehe.

15 menit kemudian bus yang ditunggu datang juga. Bus sudah penuh karena Ba-Da-Ling bukan titik pemberangkatan pertama. Terpaksalah kita berdiri sampai perhentian berikutnya dimana banyak orang – orang pada turun.

Anda harus ingat, sepenglihatan saya selama di Beijing, bus – bus disana itu tidak menggunakan huruf latin untuk menuliskan jurusan dan tarif busnya. Untungnya nomor jurusan bus masih ditulis dengan huruf latin. Untuk bus ke dan dari Ba-Da-Ling kami tidak ada masalah karena di buku petunjuk wisata Beijing dijelaskan nomor dan tempat menunggu bus.

Masalah timbul waktu kami sampai di terminal “Deshengmen” di Beijing. Jam sudah menunjukkan pukul 18an waktu setempat. Udaranya dingin bukan main untuk ukuran kami – kami ini yang terbiasa dengan cuaca tropis yang hangat. Susah juga menggambarkan penderitaan akibat udara yang dingin beku tersebut. Kata bule yang sempet kami ajak ngobrol, ‘it’s like ditusuk – tusuk needle”, seperti ditusuk – tusuk jarum hehehe.

Kami berusaha mencegat taxi – taxi yang lewat, tapi sudah 10 menitan kami berdiri tidak ada satupun taxi yang berhenti. Sementara teman saya udah menggigil kedinginan. Kami pun pindah ke mencari jalan yang lebih ramai dengan harapan lebih banyak taxi yang lewat. Namun setelah sekian lama berdingin – dingin ria tak satupun sopir taxi yang mau berhenti. Terpaksalah kami mencari alternatif lain untuk pulang ke hostel. Dikeluarkanlah peta Kota Beijing yang menjadi andalan saya karena disitu ditulis nama – nama jalan dalam huruf kanji. Saya coba meminta informasi kepada petugas penjaga halte bus, seorang ibu – ibu gemuk yang lucu sambil menunjuk titik di peta yang menunjukkan lokasi hostel kami. Akhirnya setelah mencoba berbicara dengan panjang lebar sama ibu petugas halte yang sama sekali sebenernya gak ada yang dimengerti kami putuskan untuk nekat naik bus kota saja. Meskipun penjelasan ibu petugas halte panjang lebar, tapi tidak satupun saya mengerti kalimat yang dia ucapkan. Walaupun demikian, kita semua manggut – manggut kayak kambing dan bergiliran mengucapkan “ooooo…” , “yes, yes”, untuk menghargai usaha si ibu yang dengan susah payah menjelaskan kepada kami cara sampai di hostel kami di Jalan Nanheyan menggunakan bus kota. Oh iya, di Beijing setiap halte saya lihat dijaga petugas. Mungkin untuk mempekerjakan warga China dalam rangka mengurangi pengangguran or wahtever-lah, tapi jadinya di setiap halte terlihat tertib koq. Perlu dicontoh juga.

Tak lama datanglah sebuah bus berhenti tepat didepan halte tempat kita menunggu. Si ibu tadi kemudian teriak – teriak sambil memberi kode kepada kita untuk naik bus tersebut. Kita berempat saling pandang – pandangan bercampur kaget dan panik.  Paniknya kita tidak siap untuk naik bus ini karena belum mempersiapkan berapa ongkosnya, dibayar dimana dan tidak tahu bus ini akan pergi kemana. Tapi demi melihat si ibu teriak – teriak sambil nunjuk – nunjuk bus dengan semangat 45, akhirnya kami naik saja ke bus tersebut.

Benar saja, begitu naik ke atas bus, tak lama kemudian datanglah kondektur busnya. Bus nya sebenernya nyaman, mirip trans jakarta yang gandengan itu. Kondekturnya seorang ibu – ibu gemuk yang dari penilaian sepintas dengan memperhatikan wajah dan mimiknya kayaknya galak hehehe. Ya iya, mana ada kondektur bus kota cantik dan sexy. Kalo cantik dan sexy mending jadi fotomodel aja kali hehe.

Si kondektur mengucapkan sesuatu dalam bahasa China yang sama sekali tidak kita mengerti sambil menengadahkan tangan memberi kode meminta ongkos.  Kita jawab dengan bahasa inggris, “how much to nanheyan?” sambil melihat – lihat isi bus barangkali ada petunjuk besaran tarif yang dapat dijadikan patokan namun ternyata tidak ada. Dijawab lagi dengan omelan dalam bahasa China. Lagian kenapa juga kita ajak ngobrol pake bahasa inggris ya, mana ada kondektur bus bisa cas cis cus bahasa inggris. Di indonesia juga semua kondektur bus kayaknya gak bisa bahasa inggris hehehe.

Kondektur terus mengomel dalam bahasa china. Kayaknya dia ngomelin kita. Akhirnya saya berimprovisasi dengan mengeluarkan sejumlah uang dari saku celana saya. Saya letakan ditelapak tangan saya pecahan 20 yuan, 10 yuan, 5 yuan dan beberapa logam pecahan 1 yuan. Saya bilang ”take the money for four people” diiringi gerakan tarzan dengan tangan 4 jari terus menunjuk ke 3 teman saya dan saya sendiri. Akhirnya dia ambil uang dari tangan saya, 4 yuan sambil ngomong dalam bahasa China yang sekali lagi saya tegaskan tidak ada yang dapat saya mengerti. Dia hanya mengambil 4 Yuan, tidak lebih !!. Ooooo, berarti 1 orang Cuma 1 yuan kata saya kepada teman saya sambil ketawa – ketawa.

Di deretan bangku lain beberapa cewek ABG Beijing tersenyum – senyum melihat adegan kami dengan kondektur tadi. Mungkin mereka geli melihat kami di omel – omelin kondektur bus. Ya, kita terima saja lah, namanya juga di negeri orang.

Di setiap menjelang halte bus, ibu kondektur selalu megucapkan kata – kata yang hampir sama. Mungkin maksudnya kira- kira “kampung rambutan siap – siap”, atau “Pancoran siap – siap” kayak gitu lah. Kira – kira 10 atau 20 menitan kemudian, bus sampai di sebuah halte lain. Halte lain itu maksudnya entah dimana kita tidak tahu. Yang jelas bukan deket – deket lokasi hostel kami deh. Ibu gemuk kondektur bus mengucapkan kata – kata standard nya sambil memberi kode kepada kami untuk turun dari bus.

Tentu saja kami kaget dan bingung. Soalnya dari nama jalannya saja kami gak kenal. Yang jelas bukan di daerah deket hostel kami, saya yakin banget. Tapi si ibu kondektur keukeuh menyuruh kami turun sambil nyerocos dalam bahasa China. Baru saya sadari kemudian mungkin maksud kondektur tersebut saya harus nyambung pake bus lain, kira – kira gitu lah.

Turunlah kami di halte bus “entah dimana” tersebut. Buka lagi peta andelan, cari – cari nama jalan lokasi kami berada di peta. Oh my God, ternyata masih jauh dari hostel. Udah lah, pokoknya lieurrrrr… Akhirnya kita putuskan berjalan kaki mencari stasiun subway terdekat. Berjalan diudara dingin dibawah nol di negeri orang pada jam 7 malam bukan sesuatu yang indah loh, asli, suer. Pertimbangan kami, kalau di subway itu jelas rute dan tarifnya. Subway nya sih sudah kita kuasai hehehe. Pokoknya kalau dalam kota tarif subway 2 yuan kemana – mana. Rutenya muter – muter disitu aja hehehe. Soalnya yang namanya subway itu ya sama aja dimana – mana, di KL, Singapore, sama aja. Lagian hostel kami deket dengan stasiun subway tian’anmen east. Yaaa, kira – kira jaraknya 10 kali tendangan bebas Christian Ronaldo itu hehe. Artinya, deket sih enggak, Cuma kalo dari Stasiun Subway Tian’anmen East kita udah tau jalan pulang dengan cara jalan kaki.

Setelah berjalan selama 15 menitan berbekal petunjuk di peta, akhirnya kami menemukan sebuah stasiun subway. Alhamdulillah. Namun rencana untuk langsung pulang ke hostel kami urungkan karena rute subway kami melewati spot tempat belanja “Wang Fu Jing”. Jadi malam itu kita habiskan dengan berjalan kaki di Wang Fu Jing dan ditutup dengan makan bebek peking yang sangat nikmat.