Tanggal 19 january merupakan hari terakhir saya dan 3 tropic man lain di Beijing China. Tanggal 19 january itu kami putuskan utk langsung menuju Tianjin dari Beijing dengan sasaran Bandara Internasional Bin Hai tanpa mampir kemana – mana dulu. Pagi pagi jam 6 kita udah bangun dan bergiliran mandi. Maklumlah, Beijing lagi winter dengan suhu antara -8 sd +4 derajat Celcius diluar. Seringnya sih -4 sd -6 kalau siang, kalau malem ya gak tau soalnya tidur. Kalau di kamar hostel udara hangat koq karena ada pemanas. Bahkan lantai pun terasa hangat, kayaknya ada pemanasnya juga.

Kami sudah rencanakan akan menggunakan KA dari Beijing ke Tianjin. Tiket KA sudah kami beli sehari sebelumnya di Stasiun KA Beijing. Di Beijing ada 2 stasiun KA besar yait Beijing Railway Station dan Beijijng South Railway Station. Menurut petugas hotel, tiket KA jurusan manapun bisa dibeli di stasiun manapun, tidak harus ditempat kereta kita berangkat. Kami pilih CRH utk ke Tianjin dengan pertimbangan : cepat dan ….. akan terlihat gagah nanti pas di foto hehe, narsis dikit!

Dari hotel Forbidden City Hotel tempat kami menginap ke Beijing Railway Station berjarak sekitar 3 Km atau sekitar 6 – 8 blok (kira – kira, maaf kalo salah). Kami pergi bertiga menuju kesana jam 17:00, pemilihan waktu yang salah!. Karena kami menyempatkan utk tidur dulu siang itu akibat kelelahan. Jam 17:00 merupakan jam sibuk. Sangat susah sekali utk mendapatkan taxi di jam sibuk di Beijing, susah banget. Terpaksalah kita jalan kaki di udara dingin menggigil menuju stasiun.

Back to nginep di KLIA.

Pesawat kami dari Tianjin agak terlambat dikarenakan pihak bandara melarang terbang selama kurang lebih 1,5 jam. Akhirnya pesawat kami Air Asia X (Airbus dengan 2 lorong man !!!) berangkat sekitar jam 5 sore waktu setempat. Perjalanan dari TJ ke KL memakan waktu kira2 sekitar 6 jam yang sangat terasa lama karena kursi AA yang agak sempit , tapi muraaahhh. Nyampe bandara LCCT KL jam 23:30 an langsung masuk terminal kedatangan dan berbaris di depan loket imigrasi. Selepas dari imigrasi mulailah kami berbengong – bengong di terminal LCCT. Kami memang sudah rencanakan tidak menginap di hotel sewaktu transit di KL pada perjalanan pulang. Sayang duit nya hehehe. Soalnya pesawat kita dari KL ke JKT juga kami setting berangkat pagi. Syukurlah saya dapet pesawat Garuda dari KL-JKT jam 8 pagi dengan harga murah utk ukuran Garuda, Cuma 600 ribu !!!

Untuk membunuh waktu, kami putuskan nongkrong dulu di MC D sambil makan. Tapi …. ternyata keberuntungan kurang berpihak.  Ternyata MC D terminal LCCT yang semula kita rencanakan akan dijadikan tempat ngabisin waktu lagi ada pest control. Jadi mereka tutup sampai jam 4 subuh. OMG. Setelah mikir mikir dan dengan modal nekat (krn gak tahu) kita putuskan untuk tidur malam ini di KLIA saja, sekalian nunggu Pesawat Garuda yang akan kami tumpangi ke Jakarta.

Dari LCCT ke KLIA sebenernya cukup deket (kalo naik mobil, kalo jalan sih jauh). Sekitar 10 – 15 menit menggunakan semacam Shuttle Bus dari LCCT. Biayanya hanya 3 ringgit per orang. Bayarnya pas naik.  Nyampe di KLIA, shuttle bus berhenti di semacam terminal bus gitu. Kita terus naik menuju terminal keberangkatan. Semua harap – harap cemas. Takut suasana tidak memungkinkan untuk tidur, maklum gak tau. Dan juga suasana awal di tempat kami turun bus juga kelihatannya sepi banget. Tidak semeriah di Bandara Sukarno Hataa, asli sepiii.

Dengan perut lapar karena belum ketemu nasi dari pagi semenjak dari Beijing, kami mencari lokasi terminal international keberangkatan. Cemas dan berharap menemukan tempat untuk makan dan menunggu pagi datang tanpa diusir petugas keamanan.

Kalo hasil browsing di internet, di bandara LCCT emang bisa dijadikan tempat tiduran sambil nunggu pesawat. Tapi di KLIA ?? saya belum menemukan referensi di internet. Lagipula selama ini kita belum pernah menginjakkan kaki di KLIA, maklum ke KL biasanya pake pesawat Air Asia terus, jadi mampirnya di LCCT aja.

Sampai di lantai 2 terminal KLIA, kami lihat deretan restoran dan toko – toko sudah pada tutup. Waduuhh, hati mulai ngeper ngelihatnya. Dalam hati saya, kalo emang gak bisa kita akan balik lagi ke LCCT saja pake Shuttle bus yang tadi. Tapi kami teruskan langkah mencari lokasi “strategis”. Berdasarkan peta yang tertera di dinding bandara, kami coba cari tempat terminal keberangkatan internasional.  Tak lama kemudian kami menemukan lokasi yang dicari…. dan Alhamdulillah….. ternyata tempatnya masih ada rame – rame nya dikit. Plong, lega lah hati ini (kayak habis BAB aja rasanya).

Saya lihat masih ada beberapa gerai makanan yang buka. Pandangan saya langsung menyisir ruangan mencari lokasi strategis  untuk merebahkan badan sehabis makan nanti.  Strategis itu harys beneran strategis loh. Maksud saya, lokasinya tentu saja harus nyaman (kursi luas, empuk dan ruangan sejuk), deket sama toilet, deket sama mushola, dll. Dari hasil scanning sementara saya menemukan beberapa spot strategis untuk istirahat malam ini sambil menunggu pesawat nanti pagi.

Semakin saya memasuki ruangan terminal ini, saya semakin yakin bahwa disini tempat yang cocok untuk menghabiskan malam ini. Ternyata banyak juga traveller lain yang nginep di “hotel” KLIA ini hehehe. Saya lihat dibeberapa kursi raung tunggu para turis bergeletakkan.

Setelah makan dan bersih – bersih (cuci muka dan gosok gigi maksudnya), akhirnya kami rebahan di kursi tunggu di depan gerai burger. Lokasi nya emang strategis !, deket toilet, mushola dan ada kursi pijat tak jauh dari situ.

Ada beberapa tahap yang harus dilalui untuk tidur disini. Tahap pertama adalah tahap “ujicoba” dan adaptasi. Celingak – celinguk kiri kanan melihat situasi sekitar. Apakah petugas security kelihatannya akan ngusir atau tidak ? ternyata dari gelagatnya sih tidak. Mereka memang ada mondar – mandir tapi hanya ngecek situasi aja apakah aman atau ada masalah. So, lanjut ke tahap 2. Masalah gengsi dan jaim. Pertama duduk – duduk sambil coba merem. Jadi pengen tidur sambil tetap ingin terlihat berwibawa hehehe. Tapi tidak nyaman kayaknya. Lihat kiri kanan lagi. Banyak traveller lain yang bernasib sama dan bermotif sama, “penghematan”. Kayaknya disini tidak melihat ras, agama atau umur. Semua sama – sama ngantuk dan ingin tidur. Ada turis dari Arab, India, Eropa, Melayu juga, remaja, orang tua, anak – anak (sama ortunya) semua mempunyai tujuan dan motif yang sama. Tidur di bandara untuk menghemat. Karena hanya transit saja sekitar 5 – 7 jam saja. Ada semacam perasaan kebersamaan tidur di bandara interational kayak gini. Kami, para backpacker traveller sama sekali tidak akan mempermasalahkan ras, politik negara asing – masing, agama, dll. Tidak ada gunanya. Makanya saya sering merasa heran, kenapa manusia ini seneng bertikai antara sesamanya. Cape deeehh.

Setelah mencoba ber-jaim ria dengan tidur sambil duduk, akhirnya masuklah ke tahap final. Tahap final adalah tahap “emang gue pikiriiiiiiinnnn” atau tahap “sabodo wae” hehehe. Setelah situasi dianggap aman dan damai, maka setelah dipastikan kursi kosong tidak mengganggu traveller lain, dengan sigap dan menyingkirkan rasa malu akhirnya badan direbahkan di kursi tunggu, nyelonjor. Aduuuhh nikmat sekali rasanya. Setelah seharian melakukan perjalanan, pinggang dan kaki rasanya seneng banget bisa diselonjorkan. Thank God.

Jadilah Ransel sebagai bantal dan topi untuk musim dingin sebagai tutup mata biar gak silau, plus gak malu hehehehe. Sebelum tidur, kami tentukan dulu giliran jaga, dengan maksud jagain barang2, terutama seperti passport. Maklum, curiga selalu ada. Tapi, setelah 1 jam, semua akhirnya tertidur, jaga barang ya masing2 aja hehehe, emang gue pikiriiiiinnnn hehehe

Bangun pagi – pagi jam 5 terus ke mushola. Saya lihat ternyata hampir semua traveller bergeletakan di kursi – kursi. Ada sih beberapa yang jaim tetep duduk sambil tiduran. Terutama traveller cewe yang tidak ada cowoknya.

Setelah bersih – bersih dan beres – beres perlengkapan tidur, sekitar jam 5:30 kami check out dari “Hotel” KLIA menuju ruang keberangkatan international satu lantai di atas hotel. Di lokasi tersebut, orang – orang sudah ramai, antrian terlihat dibeberapa counter.

Jam 7:30 pagi, kami sudah berada dalam pesawat Garuda yang akan mengantarkan kami kembali ke tanah air. Oohhh, ada perasaan senang setelah hampir 2  minggu berada di negeri orang kemudian kembali ke Indonesia. Indonesia…… we are coming home…..