di Copy dari : http://dewiumahkayu.wordpress.com

Landasan Syar’i keutamaan Shaum

Shaum adalah bentuk ketaatan pada Sang Khalik untuk mencapai derajat taqwa. Tanpa shaum tidak mungkin seseorang mencapai derajat tersebut. Berikut beberapa ayat Al Qur’an dan hadits yang menjadi landasan :

  1. Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (Al Baqarah : 183)
  2. Abu Hurairah ra meriwayatkan sebuah hadits dari Rasulullah SAW: “Allah SWT berfirman: “Setiap amal ibnu Adam adalah untuknya, kecuali shaum. Sesungguhnya shaum itu untuk-Ku dan Aku yang akan mengganjarnya.”
  3. “Fitnah terhadap seseorang dalam keluarga, harta dan tetangga akan dihapuskan oleh shalat, puasa dan shadaqah.” (HR Bukhari).
  4. Rasulullah saw bersabda, Rasulullah saw ditanya tentang puasa ‘Asyura, maka beliau bersabda, “Ia menghapuskan dosa setahun yang telah lalu.” (HR Muslim)
  5. Beliau ditanya tentang puasa hari Arafah, beliau bersabda, “Ia menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun berikutnya.” (HR Muslim)
  6. Beliau ditanya tentang puasa hari Arafah, beliau bersabda, “Ia menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun berikutnya.” (HR Muslim)
  7. Abu Umamah ra, berkata: Aku datang kepada Rasulullah saw, maka aku berkata: Perintahkan aku dengan amal yang memasukkan aku ke surga! Rasulullah saw menjawab: Atas kamu berpuasa, karena puasa itu tidak ada tandingannya”. Dan ketika aku datang  lagi beliau perintahkan lagi untuk berpuasa. “Kamu harus berpuasa, (HR Ahmad,Nasai, dan Hakim, dia berkata: Hadits aShahih).
  8. Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa berpuasa satu hari di jalan Allah niscaya Allah menjauhkan Jahannam dari dirinya sejauh perjalanan seratus tahun.” (HR Nasa’I)
  9. Rasulullah saw bersabda, “Shaum adalah perisai dan benteng yang kokoh dari siksa neraka.” (HR Bukhari)
  10. Rasulullah saw bersabda, “Setiap amal anak Adam akan dilipatgandakan, satu kebajikan dengan sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat. Allah berfirman, ‘Kecuali puasa. Karena sesungguhnya puasa itu langsung untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya, karena ia rela meninggalkan syahwatnya dan makanannya karena Aku.’” (HR Muslim)
  11. Rasulullah saw memerintahkan pemuda yang belum sanggup untuk menikah, sementara nafsu birahinya bergelora agar berpuasa. Beliau bersabda, “Dan barangsiapa yang belum mampu untuk menikah maka atasnya harus berpuasa, karena puasa itu baginya sebagai pengekang syahwat.” (HR Al Jama’ah dari Ibnu Mas’ud ra).
  12. Rasulullah saw bersabda, “Orang yang berpuasa apabila di sampingnya disantap berbagai makanan, maka para malaikat bershalawat (memohonkan rahmat Allah) untuknya.” (HR Turmudzi).
  13. Rasulullah saw bersabda, “Shaum dan Al Qur’an akan memberi syafa’at kepada hamba pada hari kiamat. Shaum berkata, ‘Ya Rabbi, hamba-Mu ini telah aku cegah dari makan, minum dan menuruti syahwatnya di siang hari. Maka berikanlah aku hak untuk memberi syafa’at (membelanya).’ Al Qur’an berkata, ‘Ya Rabbi, hamba-Mu ini telah aku cegah dari tidur di malam hari, maka berikanlah aku hak untuk memberi syafa’at (membelanya).’ Maka keduanya diizinkan memberi memberi syafa’at.” (HR Ahmad).