Ya, kelebihan muatan pada truk barang atau disebut juga overloading atau heavy loaded atau illegal loading adalah PUBLIC ENEMY alias MUSUH MASYARAKAT. Why ???  karena dari situlah kerugian bermula untuk kita semua. Mulai dari kerugian terkait biaya, waktu bahkan sampai nyawa kita berada dalam bahaya!!. Tidak percaya ??? ini penjelasannya.

Anda sering menjumpai jalanan rusak ketika berkendara?? Penyebab kerusakan jalan memang banyak. Tapi coba perhatikan…. ya benar… ternyata di ruas jalan yang rusak itu banyak truk – truk overload segede  – gede kingkong berlalu lalang dengan bebasnya. Ya, BEBAS. Menurut kamus bahasa Indonesia, makna bebas adalah : 1. lepas sama sekali (tidak terhalang, terganggu, dsb sehingga dapat bergerak, berbicara, berbuat, dsb dng leluasa. 2. lepas dr (kewajiban, tuntutan, perasaan takut, dsb): 3 tidak dikenakan (pajak, hukuman, dsb. 4 tidak terikat atau terbatas oleh aturan dsb; 5 merdeka; 6 tidak terdapat (didapati) lagi. Dalam kasus ini tentunya diartikan sebagai nomor 2 dan 3 hehe.

Truk – truk kingkong dengan muatan puluhan ton mengangkut besi, batu, pasir basah, dll saya kategorikan sebagai overload. Truk kingkong disini adalah truk tronton yang sama si empunya dimodifikasi abis – abisan dengan menggunakan prinsip ekonomi yang diajarkan oleh guru kita dulu. Ya, bak truk yang tadinya hanya mampu mengangkut sesuai JBB dan JBI seberat 24 ton, dimodifikasi menjadi 2 kali lipetnya mungkin lebih dengan cara tinggi bak truk ditambah dan panjang bak truk juga harus ditambah supaya adil hehehehe. Walhasil jadilah truk kingkong,

Truk kingkong ini sekali angkut bisa 50 ton ke atas lho. Anda gak percaya??? Tanya sama petugas yang suka nunggu di jembatan timbang supaya anda yakin. Tapi dengan harapan petugasnya mau berterus terang wehehehe.

Apa saja yang bisa terjadi dan pasti terjadi dengan banyaknya si kingkong tersebut berlalu lalang ???

1. JALAN RUSAK.

Saya analogikan begini saja supaya gampang. Anda dengan mengerahkan segala daya upaya mampu mengangkat karung beras berapa kilo ??? Umpamakan saja maksimal anda mampu mengangkat 40 kg di punggung atau ditopang dibahu anda. (Saya yakin kurang dari itu hehe). Sekarang saya akan simpang beban 80 kg di punggung atau bahu anda secara berulang (bebean repetisi). Apa yang terjadi ??? Anda akan berakhir di UGD. Begitu pula jalan raya. Sesuai dengan UU No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan, maksimal Muatan Sumbu Terberat (MST) yang boleh lewat di jalan dengan kasta paling tinggi yang ada di negara ini adalah MST 8 Ton untuk Jalan Nasional dan 10 ton untuk Jalan Tol. Atau kalau bingung lihat Tulisan Kotak dipinggir bak truk yang ada JBB, JBI 24 ton (JBB=Jumlah Berat diBolehkan, JBI = Jumlah Berat diIzinkan). Rasanya tidak perlu jembatan timbang untuk tahu kalau si truk kingkong ini melanggar batas muatan. Hitungan anak SD juga bisa dipakai untuk tahu kalau itu overload.

2. JALAN MACET

Contoh nyata banyak kita temui dijalan – jalan yang agak – agak nanjak. Untuk jalan hanya 2 lajur 2 arah, ketika didepan kita ada truk kingkong yang berjalan lambat karena truk nya sudah “megap – megap” keberatan, maka deretan panjang mobil mengantri dibelakangnya adalah pemandangan “pasti” yang akan terjadi. Contoh di Jalan Cadas Pangeran yang menghubungkan Sumedang dengan Bandung.

Selain mengatur mengenai batas kecepatan maksimum, Peraturan dinegara ini mengatur Juga yang namanya ”KECEPATAN MINIMUM”. Menurut hemat saya definisinya adalah ”Kecepatan Terendah yang harus dijalankan oleh kendaraan jika dia berlalu lintas di jalan umum”. Saya tidak tahu jika banyak sopir truk kingkong atau pengusaha pemilik truk kingkong atau oknum aparat negara ini mendefinisikan kalimat ”Kecepatan Minimum” itu menjadi sesuatu yang lain. Tapi menurut saya adalah yang tadi.

Yang terjadi di negara ini adalah Truk Kingkong ini sudah ngangkutnya terlalu berat sekali, lajunya kurang dari kecepatan minimum, eh… bisa – bisanya jalannya dilajur kanan terus lagi. Cabeee deeeh, pedes. Ini kisah nyata lho yang sering terjadi di jalan 4 lajur 2 arah, sebut saja Jalan Tol lah. Coba anda lewat di jalan tol sekarang. Susah sekali kan mau bergerak dengan kecepatan 100 km/Jam. Banyak kingkong di kanan kiri kan. Kingkong ini bergerak lambat sekali dibawah kecepatan 60 Km/Jam yang disyaratkan. Akibatnya si kingkong yang agak cepetan dikit ingin nyalip dan jalan di lajur kanan terus. Sudah di kasih kedip – kedip lampu, di klakson tidak mau ke kiri. Dengan terpaksa dan gagah berani seraya mengucap bismillah, biasanya saya ambil jalan ke bahu.

Ya ke bahu jalan !!!. Bayangkan, kita harus bertaruh nyawa mengambil lintasan ke bahu jalan hanya gara – gara si kingkong sialan ini yang tidak punya lagi hati nurani. Anda pasti tahu mengenai konsekwensi mengambil bahu jalan dalam kecepatan tinggi. Saya tidak perlu menjelaskan lagi. Beruntunglah anda yang hanya kena tilang polisi karena melewati bahu jalan akibat kelakuan si kingkong ini.  Bagi yang tidak beruntung, maut menanti melalui kode ”TABRAKAN BERUNTUN” akibat menghantam kendaraan yang sedang berhenti di bahu jalan. Rasanya pak polisi juga tidak pas kalau menilang kita karena kita melanggar bahu jalan, padahal dengan jelas si kingkong lewat tergopoh – gopoh dikanan kiri dibiarkan lewat tanpa sanksi. Oh My God !!!

KERUGIAN

Rasanya kerugian yang ditimbulkan sudah bisa anda simpulkan sendiri. Kerugian waktu, biaya, bahkan nyawa bisa melayang. Akibat overload, jalan rusak, trus mobil kita sering service, konsumsi bahan bakar makin boros karena harus berjalan lambat.

Semoga istilah seperti judul film GOD GREW TIRED OF US tidak bener ya. Saya malah khawatir Tuhan bener sudah cape melihat kelakuan kita di Bumi. Jadi siapa dong yang harus bertindak ?