Ide saya adalah dengan mengkonversi Angkutan Kota yang sekarang beroperasi menjadi Bus ¾. Konversi dilakukan yaitu dengan mengganti 4 unit angkot menjadi 1 unit Bus ¾. Bus tersebut dioperasikan sebagai bus kota dengan trayek yang lebih luas areanya sehingga dapat menyisir wilayah pinggiran.

Hal pertama yang ada dibenak anda pastilah : AKAN ADA DEMO BESAR – BESARAN DARI SUPIR ANGKOT dan pemilik angkot. Inilah susahnya kalau kebijakan angkutan yang salah dipaksakan diterapkan. Kenapa saya bilang kebijkannya salah, karena kebijakan angkot yang dikelaurkan oleh Pemda Kab/Kota ini memungkinkan kepemilikan / pengusahaan secara pribadi atas angkot tersebut, bukan atas perusahaan berbadan hukum. Tidak seperti taksi atau Bus, kepemilikan atau pengusahaannya HARUS oleh perusahaan bukan perorangan.

Tapi ya sudahlah, sudah terlanjur. Untuk membenahi sistem transportasi perkotaan memang diperlukan keberanian dan kebulatan tekad dari Kepala Daerah (Bupati / Walikota). Karena dalam perjalananya nanti akan banyak ditentang oleh banyak pihak, terutama para pemilik angkot dan sopir angkot.

Kita teruskan lagi masalah usulan konversi. Kebijakan konversi angkot kepada bus kota ini juga sebaiknya diikuti dengan kebijakan pemberdayaan para sopir angkot untuk diberdayakan (baca : diberikan prioritas utama) menjadi sopir dan kondektur bus kota. Dengan demikian para sopir angkot ini tetap akan mempunyai sumber mata pencaharian.

Dikarenakan banyaknya angkot yang beroperasi, maka mau tidak mau akan masih banyak tersisa angkot meskipun sebagian sudah di konversi. Sisa angkot ini oleh pemerintah dapat diarahkan untuk beroperasi di wilayah pinggiran perkotaan atau wilayah yang pada bagian awal saya sebut sebagai wilayah yang tidak terlayani angkutan umum. Hal ini dimaksudkan untuk mempersempit / mengurangi ketergantungan masyarakat kepada ojek.

Jadi pada intinya adalah win – win solution dengan tetap mendahulukan kepentingan masyarakat luas. Kota Serang sebagai ibukota Provinsi Banten sudah saatnya mengambil langkah untuk menjadikan Bus Kota sebagai sarana angkutan massal. Jika tidak sekarang, maka kedepan akan dapat saya pastikan kinerja jaringan jalan perkotaan di Serang akan sangat buruk dan menjadikan biaya transportasi di Kota Serang sangat mahal.