Ojek saat ini semakin banyak dapat dijumpai di Kota Serang khususnya. Pada setiap persimpangan baik dijalan arteri, kolektor, lokal bahkan sampai persimpangan jalan lingkungan perumahan pastilah dapat dijumpai tukang ojek yang lagi mangkal menunggu penumpang. Bahkan ketika kita baru turun dari Bus antar kota (di Pintu keluar Tol Serang Timur) kita akan langsung dikerubuti tukang ojek. Sepertinya jumlah antara ojek dan penumpangnya juga tidak seimbang. Lebih banyak tukang ojeknya. Pertanyaannya adalah : kenapa ojek tumbuh subur ? Padahal ongkosnya mahal sekali (ongkosnya seperti Taxi).

Dari sisi sistem transportasi umum, kemunculan ojek disebabkan karena adanya area / wilayah yang tidak terlayani angkutan umum massal. Rute trayek angkutan umum yang terbatas menyebabkan wilayah yang tidak terlayani akses angkutan umum ini menjadi lahan subur bagi angkutan lain yang tidak resmi. Disisi lain, masyarakat diwilayah ini juga perlu melakukan pergerakan dari dan menuju wilayahnya.

Adanya permintaan perjalanan inilah yang dimanfaatkan para tukang ojek. Sialnya, karena tidak ada aturan mengenai tarif karena bukan angkutan resmi maka tarif ojek ini ditentukan semau maunya tukang ojek sendiri meskipun kenyatannya ongkos ojek ditetapkan dengan tawar menawar antara tukang ojek dan penumpang. Tarif ojek ini sangat mahal jika dibandingkan dengan angkutan umum, misal angkutan perkotaan (angkot). Sebagai contoh, ongkos ojek dari Pintu Tol Serang Timur ke Perumahan Ciracas yang berjarak 5 Km adalah sebesar Rp. 10.000. Sementara untuk jarak yang sama, angkot memasang tarif Rp. 2500. Yang lebih gawat lagi, ketika malam hari ongkos ojek naik semaunya si tukang ojek.

Saya tidak jelas kenapa kalau malam hari ongkos ojek naik. Apakah kalau malam hari jalan bertambah panjang ? Yang jelas kalau malam hari jalan malah tidak macet. Tetapi kalau malam hari angkutan kota memang sudah jarang. Lagi – lagi permasalahannya adalah adanya area yang tidak terlayani angkutan umum.

Akibat ongkos ojek yang mahal ini jelas konsumen (pengguna jasa ojek karena terpaksa) yang dirugikan. Mereka pun sebenarnya tidak mau naik ojek kalau ada angkutan umum karena ongkosnya jauh lebih mahal. Padahal sebagian besar dari pengguna jasa ojek ini adalah kalangan bawah. Mengapa saya berani berasumsi begitu ? Karena faktanya wilayah – wilayah yang tidak mendapat akses angkutan umum banyak terdapat kantong – kantong kemiskinan. Bagaimana upaya pemerintah supaya masyarakat kalangan bawah ini tidak menghabiskan uang (yang mereka dapat dengan susah payah) untuk membayar ongkos ojek. Salah satu usul saya adalah dengan mereformasi sistem manajemen angkutan umum massal perkotaan. Idenya yaitu : (bersambung ke bagian 2)