Menghadapi musim hujan yang datang setiap tahun sudah sewajarnya disambut dengan gembira . Tetapi ada juga masyarakat yang khawatir dengan kedatangan musim hujan. Kekhawatiran sebagian masyarakat tidak lain adalah karena biasanya musim hujan identik dengan banjir.

Musim hujan kali ini, “seperti biasa” diwarnai dengan adanya banjir di beberapa tempat. Berita – berita mengenai bencana banjir sepertinya sudah merupakan hal yang umum di media massa.

Di Propinsi Banten, tercatat beberapa kali terjadi banjir yang tersebar di Kabupaten Serang, Pandeglang, Lebak dan Tangerang. Yang mengejutkan adalah terjadinya banjir di wilayah dalam kota Serang. Beberapa kawasan seperti Ciceri , Ciracas, Pakupatan, Cipocok dan beberapa lainnya tak luput dilanda banjir.

Banjir tersebut memang boleh dibilang kecil dan mungkin hanya sebentar. Bukan menakut – nakuti, tetapi banjir kemarin baru permulaan saja. Bagaimana dengan musim – musim hujan selanjutnya ?. Apakah banjirnya akan lebih kecil ? atau tidak banjir sama sekali ?, atau malah lebih besar ???.

Bencana banjir yang banyak terjadi akhir – akhir ini telah menyebabkan banyak kerugian pada masyarakat. Namun, tampaknya bencana banjir ini sudah menjadi hal yang “biasa” dan dianggap sebagai agenda tahunan, terutama pada daerah – daerah yang menjadi langganan banjir tanpa ada tindakan yang berarti untuk mencegah banjir datang lagi.

Namun, bagi Wilayah Serang terutama di sekitar dalam kota Serang, fenomena banjir ini mungkin bagi sebagian orang merupakan pengalaman pertama. Akankah bajir tersebut menjadi “agenda tahunan” yang akan membuat warga Kota Serang di lokasi banjir menjadi gelisah apabila musim hujan tiba ??.

Banyak orang berkomentar “mau bagaimana lagi…”. Komentar yang pesimistis ini harus dibuang jauh – jauh, karena banyak sebetulnya yang dapat kita lakukan dalam usaha untuk mencegah terjadinya banjir.

Pertama perlu dipahami bahwa masalah banjir adalah bukan masalah parsial, tetapi masalah yang terintegrasi. Begitu juga penanganannya harus dilakukan secara terintegrasi. Masalah banjir merupakan tanggung jawab kita bersama, bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja (dalam hal ini Dinas Teknis yang terkait). Masalah banjir erat sekali kaitannya dengan system drainase yang kita terapkan, dimana dalam system drainase seluruh komponen masyarakat pasti terlibat.

Konsep drainase ini agar dapat berhasil baik harus dipandang secara kawasan/wilayah. Persoalan drainase terutama dalam hal penanganan banjir tidak dapat dilihat secara local saja. Antara satu dengan yang lainnya saling berkaitan dan saling memberikan dampak.

Agar lebih mudah memahaminya, perlu dijelaskan terlebih dulu bagaimana proses yang dialami oleh air hujan dari mulai jatuh ke tanah sampai dengan ke sungai dan laut.

Air hujan yang jatuh ke tanah mengalami beberapa proses yaitu retensi (berupa resapan ke tanah/infiltrasi, tampungan di kolam, situ, waduk, dll) dan evapotranspirasi (penguapan kembali ke udara). Sisa air yang tidak masuk dalam kedua proses tersebut menjadi aliran permukaan (Surface Run Off) yang masuk ke saluran – saluran air (sungai) untuk selanjutnya dialirkan ke danau atau laut. Jika kapasitas saluran pembuang yang ada kurang dari debit air yang masuk, maka terjadilah banjir seperti yang sering terjadi sekarang ini.

Banjir yang terjadi bukanlah semata – mata disebabkan oleh kurangnya kapasitas dari saluran tersebut. Tetapi harus diperhatikan juga bahwa dari waktu ke waktu terjadi peningkatan debit aliran permukaan pada kawasan yang membuat beban saluran semakin besar. Kapasitas saluran yang sudah tidak dapat menampung beban aliran permukaan ini pun diperparah lagi dengan terjadinya pendangkalan karena sampah dan sedimentasi yang tinggi akibat lapisan tanah mudah terbawa oleh aliran air permukaan disebabkan vegetasi yang gundul.

Peningkatan debit aliran permukaan yang terjadi dari waktu ke waktu adalah konsekwensi logis dari semakin berkurangnya retensi air hujan. Pembangunan daerah permukiman, komersial dan industri yang cukup pesat tidak memperdulikan lagi adanya Ruang Terbuka Hijau. Hal ini merupakan salah satu penyebab berkurangnya retensi air hujan terutama di daerah perkotaan. Permukaan tanah yang awalnya berupa vegetasi hijau berupa pepohonan, semak dan rerumputan berubah drastis menjadi lapangan beton yang kedap air.

Retensi air hujan oleh tanah memegang peranan yang cukup besar dalam proses pengendalian air di dalam suatu kawasan. Retensi ini dipengaruhi oleh topografi / kemiringan lahan dan jenis permukaan seperti tanah berumput, beton, aspal, dll. Semakin landai kemiringan lahan dan semakin baik vegetasi di permukaan lahan tersebut, maka retensi air hujan yang jatuh ke kawasan tersebut akan semakin tinggi. Demikian juga sebaliknya. Selain untuk mengendalikan aliran permukaan, retensi juga dapat membantu menstabilkan air tanah yang menjadi sumber air bagi sebagian besar masyarakat Serang.

Konsep drainase yang lama yang kita kenal selama ini adalah membuang kelebihan air secepat – cepatnya dari suatu kawasan, yaitu dengan cara membuang kelebihan air secepatnya ke badan saluran drainase. Konsep ini telah kita terapkan sejak lama dan diterapkan hampir pada semua kawasan seperti perumahan, daerah komersial, daerah industri, lapangan golf, dll.

Jika kita cermati proses terjadinya banjir, maka sesuai logikanya dapat di ambil 2 (dua) alternatif penanganan banjir. Pertama ; memperbesar kapasitas saluran sehingga lebih besar dari debit aliran permukaan yang masuk ke saluran, atau, kedua ; memperbesar retensi pada kawasan sehingga jumlah debit aliran permukaan yang masuk ke saluran lebih kecil dari kapasitas saluran.

Konsep drainase konvensional cenderung memilih alternatif pertama, dan ini sudah banyak diterapkan di banyak tempat khususnya di negara kita. Pada alternative pertama, hal yang umum dilakukan adalah membuang secepat – cepatnya kelebihan air dengan cara langsung mengalirkan air hujan yang jatuh ke kawasaan tersebut ke saluran. Contoh sederhana adalah misal air hujan yang jatuh ke sebuah rumah baik itu jatuh ke atap atau ke halamannya biasanya langsung dialirkan dari atap ke selokan pembuang melalui talang dan pipa tanpa dicoba untuk diresapkan terlebih dahulu ke tanah.

Tentunya alternatif pertama ini sah – sah saja dilakukan, tetapi sifatnya mungkin hanya sementara. Ketika debit aliran permukaan makin hari makin besar dikarenakan semakin kecilnya retensi , maka pada suatu saat kapasitas saluran yang sudah diperbesar-pun tetap akan terlampaui.

Trend yang terjadi saat ini dalam usaha menangani banjir justru lebih banyak bersifat masing – masing (local) seperti dijelaskan dalam alternatif pertama di atas. Semua penanganan dari konsep drainase konvensional cenderung masih bersifat lokal dan hanya melihat kepentingannya sendiri tanpa memperdulikan kawasan di sebelah hilirnya.

Penerapan Sistem Drainase Berbasis Lingkungan

Penggunaan konsep drainase konvensional yang berusaha membuang kelebihan air secepatnya ke badan drainase seperti telah disinggung di atas, pada sisi lain akan memberikan dampak negatif pada daerah disebelah hilir kawasan tersebut. Beban saluran drainase juga semakin ke hilir semakin besar. Artinya, kawasan tersebut berusaha memindahkan banjir ke daerah hilir untuk membuat daerahnya bebas banjir. Jika semua kawasan menggunakan konsep ini, dapat dibayangkan berapa debit air yang harus diterima oleh daerah hilir.

Untuk itu, perlu diusahakan agar aliran permukaan sebelum masuk ke badan drainase dapat di retensi semaksimal mungkin agar mengurangi beban badan drainase dan daerah sebelah hilirnya. Usaha – usaha yang dapat dilakukan untuk meretensi aliran permukaan ini cukup banyak dan cukup memungkinkan untuk dilaksanakan. Namun, kemauan dan keterlibatan dari seluruh stakeholder sistem drainase yang mencakup semua komponen masyarakat baik itu di daerah permukiman, pertanian, komersial, di daerah hulu, daerah hilir dan pemerintah harus benar – benar maksimal.

Beberapa cara untuk memperbesar retensi air hujan terutama di daerah perkotaan adalah sebagai berikut :

a. Pembuatan Kolam Penampungan.

Kolam penampungan dapat memperbesar retensi aliran permukaan dengan cara memberikan waktu yang cukup untuk air agar dapat meresap ke dalam tanah. Kolam penampungan juga menahan aliran permukaan agar tidak langsung mengalir ke saluran drainase. Dalam hal ini pemerintah harus menetapkan kebijakan bahwa untuk mengubah fungsi suatu kawasan, misalnya kawasan hijau akan di ubah menjadi Komplek Perumahan, maka diwajibkan kepada pengembang untuk membuat suatu kolam tampungan minimal sebesar debit curah hujan yang kehilangan tempat resapannya dikarenakan berubahnya kawasan tersebut.

Sebagai ilustrasi, jika suatu lahan seluas 1 hektar (10.000 m2) dengan jenis permukaan berupa vegetasi sedang yaitu pepohonan dan rumput akan di ubah menjadi daerah permukiman, maka jumlah air yang kehilangan tempat peresapan yang diakibatkan oleh perubahan fungsi lahan tersebut (dengan asumsi besarnya debit curah hujan rata – rata 100 mm / jam dan koefisien resapan = 0.001 cm/det) adalah :

=100 mm/jam x 10 000 m x 0.001 cm/det

= 0.1 m/jam x 10 000 m2 x (0.00001 m/det x 3600 det) = 36 m3 = 36.000 liter air per jam.

Atau setara dengan 7,2 mobil tangki air ukuran 5000 liter setiap jamnya.

Dapat dibayangkan jika puluhan atau bahkan ratusan hektar lahan berubah fungsi dari ruang terbuka hijau menjadi bangunan beton. Kemanakah air hujan yang kehilangan tempat resapannya itu harus lari??, tentunya sesuai dengan sifat air, pastilah air akan mencari tempat yang lebih rendah yaitu mengalir ke daerah di sebelah hilirnya. Dan ini jelas merupakan bencana bagi kawasan – kawasan yang berada di daerah hilir.

b. Menyediakan Ruang Terbuka Hijau.

Akan sangat bijak sekali jika setiap bangunan yang ada menyediakan ruang terbuka hijau dengan luas ± 30% dari seluruh luas tanah yang dimilikinya. Permasalahannya, pada daerah permukiman, terutama di komplek – komplek perumahan, lahan yang dimiliki oleh setiap rumah sangatlah terbatas. Biasanya, semua lahan tersebut dijadikan bangunan oleh pemiliknya karena memang lahannya yang sedikit tersebut.

Untuk itu, sebaiknya ruang terbuka hijau di sediakan oleh pengembang berupa taman – taman di sekitar kompleks baik berupa pepohonan dengan lapangan rumput atau yang lainnya. Bahkan, menurut penelitian, tanah yang ditanami rumput, ternyata dapat meretensi 3 – 6 kali lipat dibandingkan dengan tanah tanpa rumput. Selain itu, taman – taman yang digunakan untuk daerah resapan air dan penghijauan, juga dapat digunakan oleh penduduk di kompleks tersebut sebagai tempat bersantai dan bermain anak – anak.

c. Membuat Sumur Resapan

Fungsi sumur resapan pada dasarnya mirip dengan kolam tampungan. Sumur resapan berfungsi untuk mengurangi aliran permukaan dari kawasan yang masuk ke saluran air, sehingga beban saluran menjadi berkurang. Sumur resapan tidak perlu di buat besar, cukuplah kira – kira sebuah lubang dengan diameter 1 m dan kedalaman 1,5 m dengan dinding dari cerucuk bambu atau pasangan bata yang dibuat berlubang – lubang dindingnya dan di tutup dengan aman. Lubang sebesar itu dapat menampung air sebesar 1.2 m3 ditambah dengan air yang meresap selama terjadinya hujan. Jika diasumsikan 1 sumur resapan dapat meresapkan air sebanyak 3 m3, maka jika suatu kawasan terdapat 100 rumah dengan 100 sumur resapan, maka air yang diretensi sebesar 300 m3 atau setara dengan 300.000 liter atau sama dengan 60 mobil tangki dengan kapasitas 5000 liter. Selain itu, sumur resapan juga dapat membantu mengisi kembali air tanah yang hilang akibat konsumsi air oleh kita (oleh sumur pompa).

d. Pembuatan Master Plan Drainase yang Up to Date

Mau tidak mau, apalagi Serang merupakan Ibu Kota Propinsi, maka sudah seharusnya Serang mempunyai sebuah Mater Plan Drainase yang terbaru berdasarkan kondisi yang ada. Dengan adanya master plan drainase ini, diharapkan system drainase yang ada terutama di Wilayah dalam kota Serang dapat dibuat sebaik mungkin dan tentunya berbasis lingkungan.

Persoalan banjir bukanlah persoalan yang tidak dapat di selesaikan. Hal ini tentu saja tergantung dari kemauan kita semua sebagai stakeholder system drainase itu sendiri dimana tentunya kita sendiri yang sangat berperan dalam proses terjadinya banjir tersebut. Diperlukan kesungguhan dan keseriusan yang tinggi dari seluruh lapisan masyarakat untuk menjadikan Serang bebas dari banjir. Namun sekali lagi, hal itu bukanlah mustahil meskipun dapat dikatakan tidak mudah.sumurresapan2

Gambar Contoh Meretensi Air Hujan Sebelum dialirkan ke saluran