Anak kami yang pertama tahun ini masuk Sekolah Dasar (SD). Setelah survey kesana kesini dan melakukan ”wawancara terselubung” (nanyain tetangga yang anaknya udah sekolah duluan) akhirnya kami memilih salahsatu SD Negeri di Serang. Banyak sekali pertimbangan kami dalam meilih sekolah buat anak kami. Kalau para ahli dalam menentukan lokasi yang paling ideal biasanya memakai metoda Analisis Multi Kriteria atau Anlysis Hierarchy Process (AHP), kami juga mencoba membuat beberapa kriteria. Kriteria yang kami jadikan dasar yaitu :

 

Keamanan & Keselamatan

Hal ini menjadi faktor utama yang harus diperhatikan. Ada beberapa parameter dalam menentukan rendah atau tingginya tingkat keselamatan :

Lingkungan sekitar SD : apakah jalan – jalan disekitar SD mempunyai traffic yang padat yg banyak kendaraan dengan kecepatan tinggi? Kita maklumi kalau anak – anak senangnya bermain berlari – lari tanpa menghiraukan keadaan disekelilingnya dan suka ingin tau (artinya suka keluar lingkungan sekolah kalau pas istirahat, nyebrang jalan, dll). Jadi penting sekali untuk mengetahui kondisi lingkungan sekitar sekolah.

 

Kondisi bangunan sekolah. Kalau bangunan sekolahnya udah lama, perlu hati – hati dong.

 

Sistem /upaya pengamanan dari pihak sekolah terhadap bahaya penculikan. Ini yang paling susah. Sekarang ini emang orang sudah banyak yang gila. Anak – anak diculik buat dijual. Sudah banyak kejadian anak diculik yang ditayangkan di televisi. Memang untuk Sekolah Dasar Negeri, hal ini sepertinya ”Kurang mendapat perhatian”. Tidak seperti di sekolah swasta yang bayarnya mahal, setiap orangtua yang mengantar dan terutama menjemput anak TIDAK BOLEH SEMBARANGAN. Harus orang yang sudah terdaftar di sekolah tersebut sebagai penjemput si anak. Beda sekali dengan di Sekolah Dasar Negeri (tapi mungkin tidak semua ya… mudah – mudahan). Saya sering perhatikan apabila bubar sekolah, anak – anak tidak diawasi dengan baik dan dibiarkan begitu saja. Pernah suatu waktu ada anak teman sekelas sama anak saya yang penjemputnya terlambat datang. Si anak dirayu oleh tukang ojek yang tidak jelas identitasnya untuk memakai jasa ojek tersebut untuk pulang. Tukang ojek juga mengaku – ngaku disuruh menjemput oleh orang tua anak tersebut. Ini hal yang sangat – sangat keterlaluan sekali bagi saya. Apakah pihak sekolah harus menunggu terjadi dulu ada anak yang hilang ??? Astagfirullah, mudah – mudahan jangan pernah ya.

 

Biaya.

Banyak orang tua sangat mempertimbangkan biaya selama anak bersekolah. Buat para orang tua yang memiliki budget terbatas, pilihan Sekolah Dasar Negeri adalah yang terbaik. Begitu juga buat kelas Pegawai Negeri Sipil (PNS) seperti saya yang TIDAK mempunyai tunjangan biaya pendidikan anak (boro – boro), pilihan terbaik kami adalah SD Negeri. Memang pemerintah mengkampanyekan Wajib Belajar 9 tahun (kalo wajib biasanya gratis kan???). Tapi kenyataannya Tidak ada yang gratis. Pertama masuk sekolah, bayar sumbangan bangunan, beli buku, seragam (4 macem : merah putih, olahraga, pramuka, hitam putih). Total jendral minimal 700 ribu-an. Tapi jangan berburuk sangka dulu. Di awal saya dan istri juga menuduh pihak sekolah mengada – ada dengan uang sumbangan bangunan. Karena kami juga sering nonton iklan sekolah gratis, BOS, dan menurut kami, prasarana dan sarana sekolah negeri adalah 100% tanggungjawab pemerintah. Tapi setelah para guru dan kepala sekolah menerangkan bahwa TIDAK semua sekolah mendapat bantuan uang untuk rehabilitasi/perbaikan gedung sekolah. Padahal beberapa bagian bangunan sekolah memang sudah memerlukan perbaikan. Uang bangunan ternyata mau digunakan untuk mengecat dinding bangunan SD yang sudah mulai kusam dan memperbaiki pagar, jendela yang sudah keropos dimakan rayap, dll. Yah, memang kondisinya perlu perbaikan, tapi tidak berat. Tapi akhirnya setelah dimusyawarahkan dengan para orang tua murid, sumbangan untuk perbaikan gedung tidak diwajibkan. Tapi masa gak nyumbang, kan buat anak – anak kita juga. Meskipun ada biaya – biaya seperti itu,tapi kalau dibandingakan dengan SD Swasta di Kota Serang yang sudah punya nama, biaya masuk di SDN masih jauh lebih kecil, mungkin Cuma 20 % nya.

 

Jarak SD ke rumah kami

Kami berprinsip anak – anak harus sekolah dilingkungan dekat rumahnya masing – masing (menurut rayon tempat tinggal). Jadi anak yang rumahnya di Kelurahan A, sekolahnya diusahakan di kelurahan A juga. Tren yang terjadi saat ini sering ”salah kaprah” dimana di kota – kota dibuat ”Sekolah – Sekolah Unggulan” atau ”Favorit”. Jadinya orangtua (karena mau anaknya pinter) meskipun sekolah ”unggulan” tersebut jauh dari rumahnya tetapi dikejar terus. Dalam teori sistem transportasi, hal ini menjadikan beban transportasi semakin berat karena semakin banyak orang melakukan perjalanan dan semakin jauh rata – rata perjalanan. Akhirnya biaya transport jadi besar dan tidak membantu program penghematan BBM. Lain halnya kalau anak kami disekolahkan di SD yang berada dilingkungan sekitar temapt kami tinggal. Jaraknya dari rumah Cuma 600 meter-an. Kami pun tidak kerepotan mengantar anak sekolah. Bahkan sekarang anak saya udah berani jalan kaki pulang pergi sekolah. Keren kan??

 

Fasilitas Sekolah.

Ini juga penting. Apakah sekolah tidak ketinggalan jaman dan mempunyai fasilitas untuk menyalurkan aktivitas siswa atau tidak? Tapi, kalau SD Negeri minimal ada lah Laboratorium Komputer (meskipun 1 komputer dipake 50 anak, jadi ngeliat aja kali ya….). Lebih lengkap fasilitasnya lebih baik, seperti ada lapangan olahraga / gym, kantin yang bersih dan sehat, perpustakaan yang baik, dll.

 

Prestasi Sekolah.

Buat sekolah yang sering dapat prestasi ditingkat kota, provinsi apalagi nasional, bahkan mungkin internasional (mudah – mudahan di Negeri kita ada, amin), pasti diburu oleh para ortu buat nyekolahkan anaknya.