Perjalanan ke Hongkong ini kami rencanakan agak panjang dan lama mengikuti rute AIR ASIA. Yup, Jakarta – Medan – Hongkong. Hongkong – Medan – Jakarta lagi hehe. Salahsatu alasan kami melihi rute via Medan adalah biar bisa lihat – linat Kota Medan juga. Sekali merengkuh dayung, 23 pulau terlampaui (padahal perahunya pake motor tempel hehe). Sekali jalan – jalan, Medan, Hongkong dan Shenzen bisa di capai gitu loh.

Tiket Medan – Hongkong sudah kami beli duluan, yang pertama. Menggunakan maskapai langganan selama bertravelling ke luar yaitu AIR ASIA. Tiket Medan -  Hong Kong didapet dengan harga Rp. 1.940.000 per orang bolak balik. Itu sudah termasuk makan dipesawat, pajak bandara di Hongkong ke Medan plus bagasi 20 Kg untuk pulangnya yang kemudian saya sesali karena saya tidak pesan bagasi lebih banyakdi internet pas booking. Believe me, lebih baik beli bagasi per per orang 15 – 20 kg pas booking jika anda akan travelling ke Hong Kong, soalnya Hong Kong itu surga belanja. Harga tiket belum termasuk pajak bandara di Polonia Medan.

Selanjutnya tiket Jakarta – Medan dan Medan – Jakarta dihunting dibeberapa maskapai. Akhirnya dapet juga tiket agak murah di Garuda Citylink yang gaul dan cool. Tiket Jakarta – Medan sberkisar di harga 400 ribu – 700 ribu. Lebih awal melakukan pemesanan, lebih murah. Bukannya kami tidak ingin penerbangan langsung dari Jakarta ke Hong Kong, tapi apadaya dompet menolak. Lebih baik pake AIR ASIA aja lewat Medan, selisih harga tiketnya buat belanja di Hong Kong hehehe.

Selanjutnya kami mencari Hostel atau Hotel buat menginap selama disana. Lokasi kami tetapkan bersama ingin berada di sekitar Tsim Sha Tsui (TST) di Daerah Kowloon. Kenapa disitu ? pertimbangannya supaya deket ke tempat – tempat belanja dan tempat – tempat lainnya yang menjadi spot turis. Jadi kami pikir akan bisa menghemat uang transportasi selama disana karena kami bisa jalan kaki dari tempat menginap ke lokasi wisata atau lokasi belanja.

Setelah searching and googling berhari – hari, akhirnya pencarian mengarah ke “Chungking Mansion” dan “Mirador Mansion” untuk kelas hostel, “Eaton Hotel” dan “Guangdong Hotel” untuk kelas hotel. Perllu digarisbawahi jika anda mencari hostel di Hong Kong via website terutama di daerah Kowloon dan sekitarnya, gambar kondisi hostel (ruangan , interior, dan eksterior) belum tentu mewakili hostel itu yang sebenarnya.

Mendengar nama “Chungking Mansion” dan Mirador Mansion” yang legendaris (sampe ada film layar lebarnya loh), akhirnya kami pesan salah satu hostel di Mirador yang paling direkomendasikan oleh para pengunjung – pengunjung sebelumnya dengan membaca “guest comment” di web Hostelworld. Guest comment berisikan “bersih, aman, ruangan agak kecil, tapi strategis”. Akhirnya kami pesan untuk 4 hari selama kami disana dengan biaya HK $ 4622 untuk 4 malam, 4 kamar. Itu artinya sekitar Rp. 330.000 per malam untuk 1 kamar. Well… termasuk mahal dibandingkan di Indonesia atau China. Disini dengan harga segitu bisa dapet hotel bintang 3.

Belakangan, sekitar seminggu sebelum keberangkatan, saya membaca info di salah satu blog, bahwa kita jangan terlalu berharap banyak mendapatkan kamar yang luas di Hong Kong. Apalagi sekelas hostel. Kenapa begitu ya? Setelah di browsing ternyata harga tanah di Hong Kong itu sangat mahal dikarenakan negerinya yang kecil. Apalagi di daerah Kowloon dan sekitarnya (Nathan Road yang terkenal itu). Sehingga memang bangunan – bangunan disana memanfAir Asiatkan semaksimal mungkin tanah yang ada. Walhasil demi alasan kenyamanan dan kenikmatan tidur dan istirahat setelah jalan – jalan seharian di negeri orang, kami akhirnya batalkan pemesanan hostel untuk 2 hari terakhir. So, di hostel kami hanya nginep 2 malam saja, selanjutnya move to hotel hehehe, yang mana daripada sangat mahal room rate nya. But it’s oke lah, cing cay lah.

Hotel kami pilih gak jauh – jauh dari Nathan Road yang paling strategis hehehe. Masih di Nathan Road, tetapi geser lebih ke utara disekitaran kawasan Jordan deket Mongkok dan Yau Ma Tei, kurang lebih 2 Km sebelah utara Mirador TST. Jangan tanya deh berapa room ratenya. Apalagi kami nginep pas malam sabtu dan malam minggu pas week end. Pokoknya kalo dipake nginep di Medan, bisa nginep di Hotel Mak Errots yang bintang 5 hehehe (sorry nyebut merk). Sekali lagi…. demi kenyamanan dan kesehatan. Tapi akhirnya belakangan keputusan untuk menginap di hotel sangat kami syukuri.

Berangkat dari Jakarta jam 7 pagi menuju Medan. Perjalanan Jkt – Medan memakan waktu 2 jam 10 menit. Sampe di Medan jam 10 pagi. Pesawat AIR ASIA Medan – Hong Kong baru berangkat jam 14:20. Jam 14:20 pesawat AIR ASIA kami take off menuju Hongkong  International Airport. Sekedar info, pajak bandara untuk keberangkatan internasional di Polonia adalah Rp. 75.000 saja.

Perjalanan Medan – Hong Kong ditempuh selama 4 jam 50 menit. Cukup pegel juga di pesawat meskipun pesawat AIR ASIA Medang – Hong Kong cukup bagus. Pesawat baru kayaknya. Pesawat tiba di Hongkong  International Airport yang terletak di Pulau Lantau jam 20:10 waktu setempat di Terminal 2. Waktu di Hong Kong 1 jam lebih cepat dibanding Jakarta atau Medan. Dari Bandara menuju TST bisa menggunakan Kereta (MTR), Taxi atau Bus. Paling murah tetapi tetap nyaman tentunya pake Bus nomor punggung A21. Tiket bus hanya HK$ 33 per orang. Bus adalah bus 2 tingkat yang nyaman. Tiket bus dapat dibeli dekat halte bus di Terminal 2 Bandara tersebut.

Perjalanan dari Bandara menuju TST dengan Bus kurang lebih sekitar 40 menit – 60 menit karena bus banyak berhenti di sepanjang perjalanan menuju TST. Saya mengira harga tiket bus jauh dekat sama. Tiba di TST kami turun di halte East Tsim Sha Tsui. Dari situ ke Mirador kurang lebih sekitar sepeminuman teh hehehehe, wiro sableng kaliii. Berjalan menuju Mirador, kami melewati Chungking Mansion dan kami dikerubuti orang – orang kulit hitam yang menawarkan hostel. Ada juga orang India dan Pakistan yang menawarkan makanan halal.

Mirador Mansion merupakan bangunan besar ex apartemen kayaknya dimana digedung tersebut banyak sekali hostel – hostel dan bahkan ada kelas kungfu IP Man hehehe.Dilantai paling dasar dari gedung ini digunakan untuk toko – toko yang menjual cindera mata khas Hong Kong (kaos, magnet kulkas dan pernak – penik lain), money changer, toko tas dan lain sebagainya.

Symphony of Light

Symphony of Light

Yup, Hostel tempat nginep kami, papan namanya informatif bgt

Tiket sudah ditangan, hostel sudah book by internet. Saatnya menyiapkan perlengkapan musim dingin buat “survive” di musim winternya China. Saran saya sebaiknya dari Indonesia bawa pakaian musim dingin secukupnya saja. Asal ada jaket, sweater, sarung tangan, topi dan syal itu sudah cukup. Nanti di China banyak pilihan perlengkapan musim dingin yang modelnya bagus – bagus. Jadi beli disana aja. Jangan lupa bawa baju “longjhon” kalau mau nyaman. Kalaupun di Indonesia susah dapetinnya, di minimarket atau toko – toko baju di Shanghai dan Beijing, baju longjhon biasa dijual koq. Harganya sekitar 80 – 90 yuan udah dapet yang bagus.

Selanjutnya yang perlu diurus adalah Visa kunjungan ke China. Kami tidak mengurus visa di Kedubes China nya langung.  Tapi kami mengurus visa di Gedung The East di kawasan Mega Kuningan Jakarta.  Pengurusan visa ini dapat diwakilkan sama orang lain. Jadi kalau mau bikin visa rombongan, yang ngurus ke Jakarta cukup perwakilan saja. Biaya pembuatan visa bervariasi tergantung jenis kunjungan kita dan mintanya ekspress atau biasa. Kalau jalur normal pengurusan visa sekitar seminggu dengan biaya Rp. 540 ribu untuk visa satu kali kunjungan selama maksimal 30 hari. Harga tersebut sudah termasuk administrasi kantor baru (ya The East itu) sebesar Rp. 240 ribu.

Untuk urusan nginep, saya lebih memilih hostel dengan pertimbangan : lokasi pasti strategis, bisa banyak ketemu sesama backpacker atau flashpacker dan…. murah. Pemesanan kamar hostel bisa dilakukan lewat beberapa situs terpercaya seperti hostelwolrd atau ……

The Day

Tibalah hari yang ditunggu – tunggu berbulan – bulan lamanya. Setelah menyelesaikan surat cuti (Alhamdulillah akhirnya bisa cuti hehehe) di kantor, maka pergi berlibur menjadi lebih mantap, lebih apdol. Perjalanan dimulai dari Terminal Keberangkatan International Bandara Sukarno – Hatta menggunakan pesawat Air Asia Boeing 737 ke Kuala Lumpur. Berangkat dari Jakarta jam 8:30 pagi, nyampe KL jam 11:30 waktu setempat. Perjalanannya sih cuma sekitar 1,5 – 2 jam. Tapi ada beda waktu 1 jam antara Jkt dgn KL.

Selanjutnya bengong 4 – 5 jam di LCCT KL nungguin pesawat lanjutan ke Hangzhou yang akan berangkat jam 17:25. Meski Cuma transit, tapi tetep aja harus ngantri di imigrasi. Sebenernya kalau mau bisa jalan – jalan ke KL pake kereta sambil nunggu pesawat berangkat, tapi nggak deh, makasih. Akhirnya pesawat kami tujuan Hangzhou berangkat sesuai jadwal jam 17:25. Pesawat lanjutan ini beda dengan pesawat yang dari Jakarta. Pesawat KL – Hangzhou adalah Air Asia X yaitu Airbus dengan 9 kursi per baris dan 2 lorong.

Pesawat tiba di Bandara Xiaoshan di Hangzhou jam 22:25. Saya masih saja belum mengeluarkan peralatan anti dingin saya karena saya anggap gak terlalu dingin soalnya dipesawat biasa – biasa aja hehehe. Tapi begitu turun dari pesawat ke terminal, langsung terasa udara dingin menyergap seluruh badan. Sssssseeettttt ….. waaawwww. Langsung saja saya dan temen2 buka ransel mengeluarkan syal, sarung tangan, kupluk dan lain – lain dengan tergesa.

Mengantri di imigrasi tidak terlalu lama. Petugas imigrasi tidak bertele – tele, langsung jebredd aja ngecap passport saya setelah membaca beberapa detik. Gak tau apa karena sudah malem atau memang Pemerintah China sedang gencar – gencarnya mengundang turin berkunjung ke China. Kartu kedatangan dan keberangkatan di China ternyata tidak diberi stempel oleh petugas imigrasi. Saya sempat nanya sama penumpang lain yang kebetulan orang Indonesia, “mas, kartu keberangkatan buat nanti emang gak di cap ya?” Soalnya saya khawatir nanti pas mau keluar China kartu keberangkatan gak ada cap malah jadi masalah. Tapi setelah tanya kebeberapa orang dan melihat teman – teman rombongan saya semua juga gak ada yang dicap, maka yakinlah saya bahwa tidak perlu di cap.

Bandara Xiaoshan kalau di kita kira – kira segede Bandara Juanda Surabaya lah. Ukuran sedang dengan arsitektur modern. Bandara sudah sepi waktu kami datang. Bus kota kayaknya sudah tidak ada lagi. Diluar bandara nampak sepi, hanya ada beberapa orang dan petugas bandara. Sebenernya jelas kami bingung mau naik apa untuk nyampe ke Hostel. Bus kota sudah gak ada, taxi gak kelihatan juga. Lagi bingung gitu, langsung kami di hampiri sopir taxi “gelap” yang berkulit putih (ya iya lah). “Taxi … taxi, where are you going” dengan logat China. Kami tunjukkan aja alamat hostel kami yang sudah disiapkan dengan tulisan kanji China dan ada peta nya meski kurang jelas. Sopir taxi minta 200 yuan, tapi hasil browsing kami di internet katanya Cuma 60 yuan, jadi kami tolak. Terus ada lagi sopir taxi cewek, minta 150 yuan, tolak lagi.

Ternyata deretan taxi ada di gedung seberang tempat kedatangan kami. Dugaan kami taxi resmi berderet disitu dan ada petugas bandara yang memantau sehingga kami tidak akan tertipu. Maka kami segera menuju kesana. Tapi dasar bingung, pas lagi jalan ke arah barusan taxi, kami dirayu lagi oleh sopir taxi gelap yang akhirnya menawar di angka 120 yuan. Karena sudah lelah dan sudah malam, maka kami terima tawaran sopir taxi yang kami kira taxinya resmi dan ada disitu.

Ternyata ….. ya ampuuunn, sama kayak di SUTA, di China juga ada berkeliaran taxi gelap (mobil pribadi yang dijadikan taxi). Sopir taxi gelap itu membawa kami berjalan terlebih dahulu. Saya tanya, “where is your car?” dia jalan aja terus. Mobil taxi gelapnya ternyata lumayan juga. Perjalanan dari Bandara Xiaoshan ke Hostel kami kurang lebih memakan waktu 30 menit melewati jalan tol yang kosong melompong. Nasib… nasib, pertama datang udah ketipu sopir taxi. Emang untuk jarak segini wajarnya tarif Cuma 60 yuan, sedangkan kami bayar 120 yuan..

Mencari hostel tempat kami akan menginap lumayan susah juga. Sopir taxi sudah kami kasih peta hasil unduh saya di web hostelnya. Tapi sopir taxi kayaknya gak yakin . Untunglah di peta tersebut ada spot terkenal yaitu salah satu universitas di Hangzhou. Sopir taxi pun akhirnyamengira – ngira lokasi hostel kami. Dia bilang (dalam bahasa China of course) yang kami kira – kira terjemahkan artinya “sekitar disini” sambil dia menepikan mobilnya. Jam 12an malam di negeri orang di tengah udara dingin menggigil akhirnya kami kuatkan hati untuk turun dari taxi dan membayar sesuai perjanjian.

Mata kami menyisir area tempat kami diturunkan, namun kami tidak menemukan nama hostel kami, “Hangzhou International Youth Hostel”, where are you… Kebetulan ada orang lewat di sekitar kami bengong. Segera teman kami menanyakan lokasi hostel dimaksud kepada beberapa orang, ……. dan … ternyata hostelnya hanya sekitar 30 meter dari lokasi kami diturunkan taxi. Tapi mungkin karena sopir taxi kami bukan sopir taxi sejati (taxi gelap) dan juga mungkin hostel nya tidak terlalu besar seperti hotel, maka sopir taxi tidak tahu persis lokasinya. Dan juga yang sangat bikin saya kaget banget, ternyata tulisan nama hostel di depan hostelnya menggunakan tulisan kanji China…. hehehehe… yup, that’s right. Ini China bung ….. hehehe.

Bandara Xiaoshan malam hari, dingiiin...

Kota Serang dalam kurun waktu 10 tahun terakhir telah mengalami pertumbuhan ekonomi dan penduduk yang cukup signifikan. Data Banten Dalam Angka menunjukkan jumlah penduduk Kota Serang Tahun 2010 sebanyak 500 ribu jiwa dengan luas Kota 266,71 Km2 atau rata – rata 1876 jiwa per Km2. Pertumbuhan jumlah penduduk yang cukup pesat di Kota Serang salah satunya disebabkan karena Serang sebagai ibukota Provinsi Banten mempunyai tarikan tersendiri dari para urbanis dan juga penduduk dari provinsi dan kota lain.

Pertumbuhan jumlah penduduk tentunya berbanding lurus dengan pertambahan pergerakan barang dan orang. Hal ini menyebabkan pertumbuhan arus kendaraan yang cukup signifikan. Dalam kurun 5 tahun terakhir jaringan jalan di Kota Serang sudah terasa mulai sesak oleh tingginya pertumbuhan lalu lintas.  Tingginya pergerakan arus lalu lintas di satu sisi kurang di imbangi oleh penambahan kapasitas jalan raya yang menjadi moda transportasi utama di Kota Serang.

Kemacetan lalu lintas di dalam Kota Serang sekarang menjadi hal rutin terutama di jam – jam sibuk pada pagi dan sore hari. Kemacetan ini juga diperparah oleh beberapa faktor yaitu ; kurang disiplinnya para pengendara terutama mobil angkutan kota; pengurangan kapasitas jalan oleh on street parking, penggunaan badan jalan dan bahu jalan bukan untuk kepentingan jalan, fasilitas pedestrian yang tidak memadai, dan banyak hal lainnya yang turut memberikan sumbangsih atas kesemrawutan lalu lintas.

Urbanisasi dan Perpindahan Penduduk

Urbanisasi bukan hanya terjadi di Kota Serang tetapi hampir di semua kota – kota di Indonesia. Dampak laju urbanisasi yang tinggi sudah mulai dirasakan di Kota Serang salahsatunya dari segi transportasi.  Pada prinsipnya, kemacetan di jalan raya itu disebabkan terlampauinya kapasitas jaringan jalan yang ada oleh jumlah (arus Lalu Lintas) kendaraan yang lewat pada jaringan tersebut.  Jika di urut lebih jauh lagi, maka hal ini disebabkan oleh “semakin bertambahnya waktu (semakin lamanya ) seseorang melakukan perjalanan di dalam sistem jaringan jalan. Artinya, semakin lama seseorang melakukan perjalanan, maka semakin besar sumbangsih dia terhadap kemacetan di jalan.

a.       Saat ini Kota Serang terus mengembang seiring dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk. Pertambahan jumlah penduduk menuntut bertambahnya ruang untuk permukiman, niaga dan lain sebagainya.  Pertumbuhan kota sudah dengan sendirinya akan menaikkan harga lahan di pusat kota yang berdampak semakin banyaknya masyarakat yang tinggal di area pinggiran kota, namun mereka bekerja di pusat kota. Dengan demikian, semakin banyak masyarakat yang melakukan perjalanan dengan waktu tempuh perjalanan yang semakin panjang.

b.      Dampak lain dari pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi adalah semakin banyaknya profesi berarti semakin banyak juga aktivitas perjalanan. Jumlah pelajar dan mahasiswa semakin banyak, semakin bertambah kunjungan wisatawan, dan lain sebagainya. Kesemuanya itu menyebabkan adanya pergerakan tambahan di pusat kota.

Atas Nama Pendapatan Asli Daerah (PAD)

Seiring dengan diberlakukanya otonomi daerah, kini daerah berusaha menggenjot PAD dari berbagai sektor. Tidak terkecuali juga dari sektor – sektor yang memberi kontribusi terhadap kemacetan perkotaan. Berikut ini beberapa kebijakan yang diambil oleh Pemerintah Daerah atas nama PAD yang berdampak terhadap kemacetan di Kota Serang.

a.       Menggenjot Penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa Pemerintah Daerah harus mempunyai cukup anggaran untuk membangun daerahnya. Sayangnya untuk saat ini penerimaan dari sektor pajak kendaraam bermotor menjadi sektor unggulan dalam penerimaan PAD. Oleh karenanya Pemerintah Daerah terus menggenjot penerimaan pajak kendaraan tanpa mempertimbangkan kapasitas jaringan jalan yang tersedia. Pertumbuhan jumlah kendaraan yang tidak sebanding dengan penambahan kapasitas jaringan jalan pada satu titik tertentu akan menyebabkan kemacetan dalam sistem jaringan jalan di Kota Serang yang akhir – akhir ini sudah sangat terasa. Kemacetan di dalam Kota Serang sendiri sebenarnya sudah merupakan indikator peringatan untuk mempertimbangkan mengurangi laju pertumbuhan kendaraan.

b.      On Street Parking

Kurangnya kapasitas jaringan jalan di Kota Serang diperparah lagi oleh adanya kebijakan diperbolehknnya on street parking di beberapa ruas arteri dan ruas kolektor utama yang kerap macet. Jika mau berhitung dengan jujur, sebenarnya PAD dari sektor parkir jauh lebih kecil dibandingkan kerugian akibat macet yang diakibatkannya.

c.       Target Retribusi Penerimaan dari Pemanfaatan RUMIJA

Perizinan pemanfaatan Ruang Milik Jalan idealnya diatur untuk menjaga agar fungsi jalan sebagai prasarana berlalu lintas tetap bisa dipastikan berjalan dengan baik. Perizinan pemanfaatan Rang Milik Jalan jangan digunakan untuk menarik PAD sebesar mungkin dengan mengorbankan fungsi pelayanan jalan untuk kepentingan yang bukan seharusnya. Untuk itu perlu pengetatan dalam pemberian izin pemanfaatan ruang milik jalan seperti pembatasan akses jalan masuk pada jalan arteri dan kolektor sehingga arus lalu lintas tidak terganggu.

 

Langkah – Langkah Yang Bisa Dilakukan

Guna memperbaiki sistem transportasi di Kota Serang, tentu saja diperlukan suatu Transport Demand Management (TDM) atau Manajemen Kebutuhan Transportasi (MKT) yang cukup handal. Perbaikan transportasi tidak cukup dengan melebarkan jalan, membuat fly over atau hal – hal lain yang bersifat fisik.

Dalam menentukan solusi atas kemacetan atau upaya perbaikan transportasi seharusnya selalu mengikuti urutan sebagai berikut :

- Tahap 1 : Kembalikan Kapasitas Jalan

Jalan dibangun pada prinsipnya untuk melayani pergerakan arus lalu lintas. Bukan untuk digunakan oleh hal – hal lain seperti berjualan (kaki lima), menjadi terminal bayangan, menjadi pangkalan ojek dsb. Sebelum memutuskan untuk memperlebar jalan atau membuat persimpangan tidak sebidang untuk menangani kemacetan , maka hendaknya prinsip Kembalikan Kapasitas Jalan harus diterapkan terlebih dulu karena inilah upaya paling murah yang dapat dilakukan.

- Tahap 2 : Rekayasa dan Manajemen Lalu Lintas

- Tahap 3 : Peningkatan Kapasitas Jalan (Aternatif terakhir) : Pembangunan baru, Pelebaran, Pembangunan Simpang Tidak Sebidang, dll. Ini adalah alternatif paling akhir yang seharusnya dipilih karena selain membutuhkan biaya yang sangat besar juga penanganan kemacetan dengan penambahan kapasitas jalan dapat menyimpan bom waktu dimasa depan.

Manajemen Kebutuhan Transportasi (MKT)

Saat ini Konsep MKT Konvensional yaitu : PREDICT AND PROVIDE (RAMAL DAN SEDIAKAN) sudah harus ditinggalkan. Konsep baru dari MKT adalah PREDICT AND PREVENT ! (RAMAL DAN CEGAH).


 

 

 

 

Dalam konsep baru MKT, pertumbuhan lalu lintas yang akan menyebabkan terjadinya kemacetan harus diupayakan untuk dicegah. Artinya sedapat mungkin mencegah terjadinya kemacetan dengan konsep – konsep MKT yang dapat diaplikasikan.

 

 

 

Tidak perlu ahli transportasi untuk bisa memprediksi apa yang akan terjadi dengan transportasi di Kota Serang beberapa tahun ke depan jika tidak ada tindakan untuk melakukan MKT.

 

Langkah – Langkah Penerapan MKT di Kota Serang

Kemacetan terjadi karena adanya proses pergerakan yang dilakukan pada lokasi yang sama dan pada waktu yang bersamaan pula. Oleh sebab itu kebijakan yang dapat dilakukan dalam pelaksanaan penerapan konsep MKT di Kota serang harus dapat mengarah pada terjadinya beberapa dampak pergeseran pergerakan dalam ruang dan waktu yang meliputi 4 langkah yaitu sebagai berikut :

1. Dampak Pergeseran Waktu

Pergerakan lalu lintas bisa saja dilakukan pada lokasi yang sama, namun harus diarahkan untuk terjadi pada waktu yang berbeda. Kapasitas jaringan jalan angkanya fix (tetap) dalam satuan mobil penumpang per satuan waktu (smp / Jam). Jadi perlu dibuat beberapa kebijakan daerah untuk mengarahkan pergerakan lalu lintas dapat terjadi tidak dalam waktu yang bersamaan.

 

Beberapa langkah yang dapat diambil yaitu sebagai berikut :

a.       Strategi pemisahan jam masuk kerja

Pegawai pemerintah, pegawai swasta dan anak sekolah sebaiknya dibedakan jam masuk dan jam kepulangan. Yang terjadi saat ini di Kota Serang, hampir semua pegawai pemerintah , pegawai swasta dan anak sekolah berangkat secara bersamaan dipagi hari dan pulang secara bersamaan di sore hari. Ketika kemacetan sudah terjadi dalam jaringan jalan, keputusan untuk pembedaan jam masuk kerja ini menjadi alternatif yang sangat feasible untuk dipilih. Usaha ini dilakukan untuk menghindari jam puncak dengan melakukan pergerakan lebih awal atau setelah jam sibuk.

Dapat kita bayangkan jika semua orang melakukan pergerakan untuk masuk kerja dan masuk sekolah pada jam 7:00 pagi secara bersamaan. Tentu saja kapasitas jaringan jalan di Kota Serang saat ini sudah tidak bisa menampung semua pergerakan dan berakibat terjadinya kemacetan yang semakin kronis pada jam puncak pagi dan sore. Padahal sebenarnya mulai dari jam 8:00 pagi jaringan jalan sudah kembali normal, tidak ada kemacetan. Artinya jaringan jalan masih bisa melayani pergerakan lalu lintas asalkan pergerakan lalu lintas disebar ke jam – jam yang kosong.

b.      Pembatasan waktu pergerakan untuk angkutan barang

Angkutan barang sudah saatnya diatur jam – jam kapan dia diperbolehkan masuk kedalam kota dan kapan dia dilarang. Angkutan barang terutama kendaraan truk besar memakan kapasitas jalan lebih besar dikarenakan ukuran dimensi kendaraan dan juga kecepatan kendaraan yang lebih lambat. Pada jam – jam yang dianggap sibuk seperti pagi hari dan sore hari, sebaiknya angkutan barang dilarang untuk mengurangi volume lalu lintas.

2. Dampak Pergeseran Lokasi / Rute

Pergerakan lalu lintas bisa saja dilakukan pada waktu yang sama, namun harus diarahkan untuk terjadi pada lokasi atau rute ruas jalan yang berbeda. Beberapa langkah yang dapat diterapkan di Kota Serang untuk Pergeseran Lokasi / Rute adalah sebagai berikut :

a.       Penerapan Rute Khusus Angkutan Barang

Pengaturan penerapan rute khusus angkutan barang dapat diterapkan untuk membagi volume lalu lintas ke jaringan jalan. Angkutan barang sebaiknya tidsk bercampur dengan kendaraan lain tetapi dicoba dipisahkan.

3. Dampak Pergeseran Moda

Proses pergerakan terjadi pada waktu dan lokasi yang sama, tetapi diarahkan untuk dilakukan dengan moda yang berbeda. Pemerintah Kota Serang harus mulai menyediakan beberapa moda transportasi yang berbeda. Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :

a.       Kebijakan peningkatan pelayanan angkutan umum

Sudah saatnya Pemkot Serang bekerjasama dengan Pemkot Cilegon dan Pemkab Serang membuat rintisan Bus Dalam Kota di wilayah Serang Raya. Di Jakarta ada Trans Jakarta, di Jogjakarta ada Trans Jogja dan di Semarang ada BRT.

Rute padat pergerakan seperti Cilegon – Alun alun Serang – Pakupatan – Ciruas – Cikande untuk arah Barat – Timur dan Dalam Kota Serang – KP3B untuk arah Utara – Selatan sudah saatnya dilayani dengan angkutan umum massal seperti Bus Kota. Memang perlu analisis kelayakan finansial terlebih dulu untuk memastikan kelayakan pihak swasta masuk ke bisnis ini. Namun pelayanan transportasi umum massal ini bahkan untuk Trans Jakarta sekalipun masih butuh subsidi pemerintah.

Memang akan ada protes dari pemilik angkutan kota. Namun hal ini dapat diminimalkan dengan melibatkan para sopir angkutan kota menjadi sopir bus atau mempekerjakan kembali para sopir angkot dibidang lain dengan dukungan pihak swasta dan juga memberikan kesempatan kepada pemilik angkutan kota untuk memiliki saham dalam pengelolaan bus Trans Serang Raya.

Kebijakan ini harus ditindaklanjuti dengan Kebijakan konversi angkutan kota menjadi bus. Misalkan 5 unit angkutan kota dikonversi menjadi 1 unit bus 3/4 untuk mengurangi jumlah kendaraan yang bergerak dijalan.

b.      Mobil antar jemput

Pemberlakuan mengadakan mobil bus antar jemput untuk anak sekolah, karyawan swasta atau PNS dapat dijadikan salahsatu cara untuk menggeser moda transportasi dari yang biasanya menggunakan kendaraan pribadi. Seperti kita lihat saat ini, bahkan anak – anak sekolah pun seperti si SDL atau di SMUN 1 Serang kalau pagi dan siang hari banyak sekali kendaraan pribadi menjemput atau mengantarkan anak sekolah. Padahal setiap mobil tersebut penumpangnya hanya 1 atau 2 orang saja sehingga membuat kemacetan.

Jika pihak sekolah dapat menyediakan fasilitas antar jemput yang aman, nyaman dan murah, maka orang tua murid mungkin dapat mempercayakan anak – anaknya untuk menggunakan fasilitas antar jemput tersebut.

Untuk karyawan swasta, beberapa perusahaan terutama industri seperti KS, Chandra Asri, dll telah melakukan kebijakan antar jemput ini. Hanya saja Pemkot Serang belum menyediakan fasilitas halte bus yang baik sehingga sering bus – bus tersebut berhenti sembarangan yang membuat kemacetan tersendiri.

c.       Perbaikan fasilitas pejalan kaki dan Jalur Khusus Sepeda

Untuk rute – rute pendek, masyarakat dapat diarahkan untuk memilih berjalan kaki atau bersepeda daripada membawa kendaraan sendiri. Tentu saja fasilitas pejalan kaki dan jalur sepeda harus dibuat aman dan nyaman. Pemkot Serang dapat memanfaatkan momentum “gerakan kembali bersepeda” atau “bike to work” yang saat ini sedang ramai.

d.      Pergeseran moda transportasi ke telekomunikasi

Kebutuhan yang bersifat informasi dan jasa dapat dipenuhi tanpa harus melakukan pergerakan, cukup menggunakan teknologi seperti mobile telephone atau e-mail . Contoh paling mudah di Pemerintahan adalah urusan kirim mengirim surat. Mungkin dapat diterapkan kebijakan pengiriman surat melalui fasilitas email saja sehingga mengurangi jumlah pergerakan di jaringan jalan.

4. Dampak Pergeseran Lokasi Tujuan

Proses pergerakan terjadi pada lokasi yang sama, waktu yang sama dan moda transportasi yang sama tetapi dengan lokasi tujuan yang berbeda. Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :

a.       Rayonisasi Sekolah

Adanya “Sekolah Favorit” atau “Sekolah Unggulan” merupakan kebijakan yang kurang menguntungkan dilihat dari kemacetan lalu lintas. Seharusnya setiap sekolah apalagi sekolah negeri mempunyai kualitas dan fasilitas yang sama dimanapun ia berada.

Demi predikat bersekolah di sekolah favorit inilah, akhirnya para orang tua murid berlomba – lomba menyekolahkan anaknya di sekolah sekolah favorit meskipun lokasi sekolah tersebut berada jauh dari lokasi rumahnya. Akhirnya untuk mencapai sekolah tersebut diperlukan jarak yang panjang sehingga ia akan memerlukan waktu yang lebih lama berada untuk berlalu lintas.

Sudah saatnya Pemerintah Kota Serang menerapkan kebijakan rayonisasi sekolah, terutama untuk SD sampai dengan SMU sehingga dapat mengurangi beban volume lalu lintas di dalam jaringan jalan dalam kota.

b.      Penyebaran Pusat Kegiatan

Rencana Umum Tata Ruang yang handal seharusnya mengantisipasi adanya penumpukkan kegiatan didalam satu lokasi. Dapat kita bayangkan jika aktivitas kegiatan bertumpuk di satu lokasi, maka akan terjadi penumpukan pergerakan dan berakibat kemacetan.

Pusat kegiatan sebaiknya dibuat spesifikasi, tidak bercampur terlalu banyak. Misalnya tidak bercampur antara kegiatan niaga dengan pendidikan dan industri. Contoh yang paling mudah dari pengaturan pusat kegiatan yang baik adalah menempatkan lokasi Pusat Pemerintahan Provinsi di Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten di Palima.

Tiket Bullet Train atau CRH

Tiket Bullet Train atau CRH

Untuk booking tiket KA Cepat (Bullet Train / China Highspeed Railway / CRH) di China bisa dilakukan dengan beberapa cara. Lewat internet, minta bantuan hotel atau datang langsung ke station KA. Setiap Station KA di China menjual tiket Kereta Api untuk berbagai jenis dan berbagai tujuan. Jadi meskipun di station KA tempat kita beli tiket tidak ada KA jurusan ke Kota Beijing (misal), tapi ia tetap bisa melayani pembelian tiketnya.

Semua tiket KA pada waktu saya dan teman travelling di China dibeli disana. Tidak dibooking via internet dari Indonesia. Maklumlah, khawatir repot lagi nanti pas udh di China cara nuker tiketnya. Kita skip saja cara pemesanan tiket KA via internet secara saya juga tidak tahu.

Hangzhou ke Shanghai

Setelah bermalam 1 malam di tepi Danau Xi Hu di Hangzhou, keesokan harinya kami akan berangkat ke Shanghai. Kami sudah tanya ke petugas Hostel untuk dibantu memesankan tiket Bullet Train dari Hangzhou ke Shanghai. Tapi kata petugas hostel bisa langsung aja di station karena station nya juga jaraknya deket dari hostel kami.

Bayangan mendapatkan tiket CRH Hangzhou – Shanghai dengan mudah akhirnya memudar di otak saya ketika pertama nanya sopir taxi ke station KA saja sudah susah, kendala bahasa lagi nih. Untunglah ada seorang mahasiswa China yang membantu kami mengkomunikasikan ke sopir taxi untuk membawa kami ke station KA.

Tiba di station, ternyata yang namanya station KA Hangzhou itu gueedddee bangettt dan modern. Sekarang tibalah giliran untuk berbingung – bingung mencari tempat loket penjualan tiket. Jangan ditanya masalah kepanikan kami. Ditengah ribuan orang berlalu lalang kami berusaha mencara petunjuk keberadaan loket untuk pembelian tiket. Setelah bolak – balik sekitar 30 menit dan bertanya pada sekitar 4 orang, barulah kami menemukan lokasi loket untuk pembelian tiket CRH ke Shanghai.

Gedung khusus loket tempat penjualan tiket KA ternyata terpisah dengan gedung untuk keberangkatan dan kedatangan penumpang. Gedung loket adalah bangunan tersendiri disisi kanan bangunan utama (lihat gambar). Pada gedung ini terdapat sekitar 30 loket yang berjejer. Tolong diingat, dari sekitar 30an loket tersebut, ada satu loket khusus untuk “foreigner” (orang asing / tourist). Itu adalah loket yang paling tengah. Diatas kaca depan loket ada tulisan “FOREIGNER” dan “TICKET” atau apa gitu dalam huruf latin. Sedangkan 29 loket lainnya…… yaaaa… tulisannya semua dalam huruf kanji China.Antrilah anda di loket foreigner kalau mau aman. Mengapa saya bilang kalau mau aman? Karena sebenarnya kita bisa beli tiket disemua loket tersebut, tapi petugas loket yang bisa berbahasa inggris kayaknya yang diloket foreigner aja (ini dugaan saya aja loh).

Setiap loket hebatnya dijaga oleh petugas militer. Saya gak yakin apakah militer atau petugas keamanan station. Tapi warna seragamnya hijau. Rata – rata antrian disetiap loket pada saat saya mengantri jam 11 siang waktu itu sekitar 20 sd 25 orang. Kurang lebih dibutuhkan waktu 40 menit untuk sampai dilayani. Jadi saran saya sebaiknya anda menyesuaikan waktu keberangkatan kereta. Tapi jangan khawatir, keberangkatan dari station ini tergolong sering utk tujuan Shanghai.

Kereta di China diberi kode sendiri – sendiri sesuai dengan jenis kereta dan tujuannya. Untuk Bullet Train atau CRH dari Hangzhou ke Shanghai kode kereta CRH adalah “G”. Di tembok sebelah kiri dalam ruangan tempat loket berada terdapat papan elektronik yang memperlihatkan jadwal keberangkatan kereta. Perhatikanlah jadwalnya, disitu ada nama kereta, tujuan dan jam keberangkatan. Saya menyarankan untuk membeli tiket sehari sebelumnya supaya kita tidak diburu waktu. Tiket CRH kami dari Hangzhou ke Shanghai adalah kode G7422 dengan harga tiket 82 Yuan untuk kelas seat soft (kursi kayak di pesawat gitu lah) dengan tujuan stasion Shanghai Hongqiao.

Perjalanan dari Hangzhou ke Shanghai yang berjarak sekitar 160 Km ditempuh hanya sekitar 30 – 40 menitan. Maklumlah, sang Kereta bisa ngacir sampai kecepatan 340 Km/Jam. It’s amazing …

Shanghai ke Beijing

Untuk menuju Beijing dari Shanghai, kami berencana tetap menggunakan kereta CRH. Jarak Shanghai ke Beijing sekitar 1150 Km akan kami lalui dengan tidur di kereta. Jadi itung – itung hemat biaya nginep juga hehe.

Untuk membeli tiket kereta dari Shanghai ke Beijing, selain datang langsung ke Station KA kita bisa beli lewat semacam counter KA di Hotel Wu Gong didekat Nanjing Road. Disitu ada dibuka 1 loket untuk melayani pembelian tiket KA. Namun jika anda sudah fix jadwal keberangkatan menuju Kota berikutnya, saya sarankan ketika anda tiba di Station Shanghai Hongqiao dari Hangzhou anda langsung beli tiket KA untuk ke Beijing sebelum anda menuju hotel.

Pilihan harga tiket Shanghai – Beijing ada beberapa. Setau saya cuma ada hard sleeper dan soft sleeper. Tidak ada tiket untuk duduk di kursi untuk KA ke Beijing ini. Mungkin karena perjalanan jauh dan lama. Kenapa saya berkesimpulan begitu? Soalnya waktu saya dan teman – teman naik Kereta itu ke Beijing, kami hitung gerbongnya Cuma ada sekitar 6 atau 7 gerbong saja. Tiap – tiap gerbong saya selusuri hanya ada kompartemen – kompartemen, tidak ada kursi.

Proses pembelian tiket dari Shanghai ke Beijing tidak sesulit waktu kami beli tiket dari Hangzhou ke Shanghai. Belajar dari pengalaman, kami beli tiket 1 hari sebelum keberangkatan. Main aman lah hehehe. Kode tiket untuk CRH dari Shanghai ke Beijing adalah kode “D”.  Tiket CRH kami dari Shanghai ke Beijing adalah kode D322 dengan harga tiket 655 Yuan untuk kelas soft sleeper dengan tujuan station Beijing South.

Kompartemen kelas soft sleeper ini sangat mewah dan nyaman untuk ukuran saya. Dengan fasilitas 4 buah tempat tidur lipat setiap kompartemen dan TV Flat disetiap tempat tidur, menjadikan perjalanan anda sangat nyaman. Toilet yang modern dan sangat bersih terdapat disetiap gerbong. Lebih bagus dari toilet pesawat. Disamping itu yang membuat kita betah di CRH adalah petugas KA nya cuantikk – cuantikkk. Mirip – mirip artis mandarin lah, muantappp. Sesuai lah dengan harganya, dijamin gak nyesel.

Kami berangkat dari Station Shanghai Hongqiao jam 9:45 malem dan nyampe ke Station Beijing South Jam 7 pagi. Perjalanan tidak terasa, malah masih betah di kereta pas udah nyampe Beijing. Sebenernya ada juga pilihan jadwal untuk siang hari, tapi kayaknya mendingan malem aja deh, sekalian tidur. Sayang lah udah jauh – jauh ke China koq siang hari bengong di kereta. Kan kalau siang itu jadwal kelayapan.

Oh iya, harga tiket untuk tempat tidur dibawah dan tempat tidur diatas lebih mahal 50 Yuan yang dibawah. Mungkin kalo dibawah enak gak ribet. Jadi lebih mahal. Makanya kalo berangkatnya ber 4 kayak saya pas banget sama kapasitas kompartemen. Kalo Cuma berdua atau sendiri siap2 aja tidur bareng orang asing hehehe. Tapi positifnya bisa berlatih bahasa China kan.

Beijing ke Tianjin

Sehubungan tiket pesawat pulang kami berangkat dari BINHAI INTERNATIONAL AIRPORT di TIANJIN yang berjarak sekitar 140 km dari Beijing, maka kami sekali lagi akan menggunakan jasa kereta CRH alias Bullet Train untuk menuju kesana. Awalnya saya mencoba meminta bantuan petugas hotel untuk booking via telepon. Namun kami lagi kurang beruntung karena ternyata sistem booking tiket di station lagi ada gangguan. Akhirnya terpaksa dengan gagah berani kami pergi ke Station Beijing pada jam sibuk sore (sekitar jam 5 sore) dibawah suhu dingin -6o Celcius. Gagah berani kan???

Di Beijing ada 2 stasiun KA besar yaitu Beijing Railway Station dan Beijing South Railway Station. Dari hotel Forbidden City tempat kami menginap ke Beijing Railway Station berjarak sekitar 3 Km atau sekitar 6 – 8 blok (kira – kira, maaf kalo salah). Kami pergi bertiga menuju kesana jam 5 sore itu, pemilihan waktu yang salah!. Karena kami telat bangun akibat menyempatkan utk tidur dulu siang itu akibat kelelahan. Jam 17:00 merupakan jam sibuk. Sangat susah sekali utk mendapatkan taxi di jam sibuk di Beijing, susah banget. Terpaksalah kita jalan kaki di udara dingin menggigil menuju stasiun. 3 Km berbekal peta tampa nanya – nanya loh !!. Soalnya malah nambah bingung kalo nanya orang hehehe, kendala bahasaaaa.

Berbekal pengalaman beli tiket waktu di Hangzhou, saya udah tulis dengan huruf besar – besar di kertas kosong. Maksudnya untuk diperlihatkan pada petugas loket biar dia ngerti. Gak pake bicara maksudnya. Meskipun petugas loket “foreigner” ini bisa berbahasa inggris, namun saya mengantisipasi aja barangkali dia tidak fasih.

Tempat loket penjualan tiket berada di paling kanan station. Begitu kita nyampe ke Beijing Railway Station, setelah nyebrang pake eskalator, kita langsung menuju bangunan paling kanan. Antrian waktu itu lumayan panjang, sekitar 20 orang. Kami antri sekitar 30 menitan. Sampai di depan loket saya langsung tunjukan kertas saya yang bertuliskan “ 4 TICKET BULLET TRAIN / HIGHSPEED TRAIN TO TIANJIN FOR TOMORROW, 19 JANUARY 2011” Petugas membaca sebentar, kemudian dia tanya jam berapa. Saya jawab sekitar jam 9 – 10 pagi aja dalam bahasa inggris. Kemudian dia mencari di komputernya. Dia minta di cek sambil menyebutkan harganya. Saya lihat dengan teliti, ingat, harus teliti ya. Waktu keberangkatan oke, tujuan oke ke Tianjin, tapi dia salah tanggalnya. Saya bilang lagi, “for tomorrow, please check the date !!”. Dia ngecek lagi dan bilang “sorry !”. Kemudian dia cari lagi dan akhirnya saya dapatkan tiket saya.

Tiket CRH dari Beijing ke Tianjin adalah kode “C”. Bullet Train kami bernomor C2017 seharga 58 Yuan yang akan berangkat dari Station Beijing South menuju Station Tian Jin. Kelasnya adalah pake kursi kayak dipesawat lagi karena deket.

Gedung Loket Tempat Beli Tiket di Hangzhou Railway Station

Gedung Loket Tempat Beli Tiket di Hangzhou Railway Station

Kendala utama yang membuat kita linglung kalau bertravelling ke China adalah BAHASA. Disamping bahasanya yang “fu sing tu zu xe ling ling” (tujuh keliling maksudnya), ditunjang lagi oleh tulisannya pake huruf kanji, lengkap sudah permasalahan. Jadi kalau mau berangkat kesana, sebaiknya dari Indonesia udah bikin sendiri kamus mini mengenai kata – kata yang umum dipakai beserta tulisannya.

Ada pengalaman lucu sekaligus bikin keqi saya dan temen – temen waktu di Beijing Januari kemarin. Waktu kami pulang dari Ba-Da-Ling (Salah satu section Greatwall yang paling umum dikunjungi turis), kami pulang sore pas waktunya jam pulang kerja. Jangan tanya deh kalau di Beijing itu pas rush hour kayak gitu paling susah dapetin taxi. Maklumlah Beijing merupakan salahsatu kota dengan penduduk terbesar di dunia.

Rencananya pulang dari Ba-Da-Ling kita mau pakai Kereta. Jadwal kereta Ba-Da-Ling ke Beijing memang Cuma 2 kali sehari jadi harus menyesuaikan jadwal main sama jadwal kereta. Selain waktu tempuhnya yang cepet  tiketnya juga murah. Trus di Beijingnya deket lagi dari stasiun ke Hostel kami.  Tapi apa daya kita terlambat menuju stasiun keretanya di Ba-Da-Ling karena keasyikan jalan – jalan di Greatwall-nya. Maklumlah namanya juga baru pertama ke Greatwall, jadi kita puas – puasin menikmati semua sensasi Greatwall. Ibaratnya, kalau badan ini kuat, mungkin saya mau jelajahin Greatwall sampai ujung (hehehe, gak mungkin ah, kan panjangnya ribuan KM).

Karena terlambat ngejar kereta, kita akhirnya menggunakan Bus untuk kembali ke Beijing, sama seperti waktu saya berangkat dari Beijing ke Ba-Da-Ling. Bus nya hanya datang kira – kira setiap 30 – 40 menitan sekali. Jadi saya dan teman – teman terpaksa berdiri menunggu bus sambil menahan dingin datang diudara – 8o C. Supir – supir taxi dengan cekatan merayu – rayu kami supaya pakai taxi aja ke Biejing. Tarif yang ditawarkan 150 sd 200 Yuan. Padahal naik Bus Cuma 12 yuan per orang. Sopir taxi sempet nakut – nakutin dengan mengatakan kalau bus dari Ba-Da-Ling ke Beijing sudah gak ada jam segini. Kita bertahan aja memilih naik bus, dengan alesan buat cari pengalaman dan sensasi naik angkutan umum dinegeri orang. Padahal buat berhemat hehehe.

15 menit kemudian bus yang ditunggu datang juga. Bus sudah penuh karena Ba-Da-Ling bukan titik pemberangkatan pertama. Terpaksalah kita berdiri sampai perhentian berikutnya dimana banyak orang – orang pada turun.

Anda harus ingat, sepenglihatan saya selama di Beijing, bus – bus disana itu tidak menggunakan huruf latin untuk menuliskan jurusan dan tarif busnya. Untungnya nomor jurusan bus masih ditulis dengan huruf latin. Untuk bus ke dan dari Ba-Da-Ling kami tidak ada masalah karena di buku petunjuk wisata Beijing dijelaskan nomor dan tempat menunggu bus.

Masalah timbul waktu kami sampai di terminal “Deshengmen” di Beijing. Jam sudah menunjukkan pukul 18an waktu setempat. Udaranya dingin bukan main untuk ukuran kami – kami ini yang terbiasa dengan cuaca tropis yang hangat. Susah juga menggambarkan penderitaan akibat udara yang dingin beku tersebut. Kata bule yang sempet kami ajak ngobrol, ‘it’s like ditusuk – tusuk needle”, seperti ditusuk – tusuk jarum hehehe.

Kami berusaha mencegat taxi – taxi yang lewat, tapi sudah 10 menitan kami berdiri tidak ada satupun taxi yang berhenti. Sementara teman saya udah menggigil kedinginan. Kami pun pindah ke mencari jalan yang lebih ramai dengan harapan lebih banyak taxi yang lewat. Namun setelah sekian lama berdingin – dingin ria tak satupun sopir taxi yang mau berhenti. Terpaksalah kami mencari alternatif lain untuk pulang ke hostel. Dikeluarkanlah peta Kota Beijing yang menjadi andalan saya karena disitu ditulis nama – nama jalan dalam huruf kanji. Saya coba meminta informasi kepada petugas penjaga halte bus, seorang ibu – ibu gemuk yang lucu sambil menunjuk titik di peta yang menunjukkan lokasi hostel kami. Akhirnya setelah mencoba berbicara dengan panjang lebar sama ibu petugas halte yang sama sekali sebenernya gak ada yang dimengerti kami putuskan untuk nekat naik bus kota saja. Meskipun penjelasan ibu petugas halte panjang lebar, tapi tidak satupun saya mengerti kalimat yang dia ucapkan. Walaupun demikian, kita semua manggut – manggut kayak kambing dan bergiliran mengucapkan “ooooo…” , “yes, yes”, untuk menghargai usaha si ibu yang dengan susah payah menjelaskan kepada kami cara sampai di hostel kami di Jalan Nanheyan menggunakan bus kota. Oh iya, di Beijing setiap halte saya lihat dijaga petugas. Mungkin untuk mempekerjakan warga China dalam rangka mengurangi pengangguran or wahtever-lah, tapi jadinya di setiap halte terlihat tertib koq. Perlu dicontoh juga.

Tak lama datanglah sebuah bus berhenti tepat didepan halte tempat kita menunggu. Si ibu tadi kemudian teriak – teriak sambil memberi kode kepada kita untuk naik bus tersebut. Kita berempat saling pandang – pandangan bercampur kaget dan panik.  Paniknya kita tidak siap untuk naik bus ini karena belum mempersiapkan berapa ongkosnya, dibayar dimana dan tidak tahu bus ini akan pergi kemana. Tapi demi melihat si ibu teriak – teriak sambil nunjuk – nunjuk bus dengan semangat 45, akhirnya kami naik saja ke bus tersebut.

Benar saja, begitu naik ke atas bus, tak lama kemudian datanglah kondektur busnya. Bus nya sebenernya nyaman, mirip trans jakarta yang gandengan itu. Kondekturnya seorang ibu – ibu gemuk yang dari penilaian sepintas dengan memperhatikan wajah dan mimiknya kayaknya galak hehehe. Ya iya, mana ada kondektur bus kota cantik dan sexy. Kalo cantik dan sexy mending jadi fotomodel aja kali hehe.

Si kondektur mengucapkan sesuatu dalam bahasa China yang sama sekali tidak kita mengerti sambil menengadahkan tangan memberi kode meminta ongkos.  Kita jawab dengan bahasa inggris, “how much to nanheyan?” sambil melihat – lihat isi bus barangkali ada petunjuk besaran tarif yang dapat dijadikan patokan namun ternyata tidak ada. Dijawab lagi dengan omelan dalam bahasa China. Lagian kenapa juga kita ajak ngobrol pake bahasa inggris ya, mana ada kondektur bus bisa cas cis cus bahasa inggris. Di indonesia juga semua kondektur bus kayaknya gak bisa bahasa inggris hehehe.

Kondektur terus mengomel dalam bahasa china. Kayaknya dia ngomelin kita. Akhirnya saya berimprovisasi dengan mengeluarkan sejumlah uang dari saku celana saya. Saya letakan ditelapak tangan saya pecahan 20 yuan, 10 yuan, 5 yuan dan beberapa logam pecahan 1 yuan. Saya bilang ”take the money for four people” diiringi gerakan tarzan dengan tangan 4 jari terus menunjuk ke 3 teman saya dan saya sendiri. Akhirnya dia ambil uang dari tangan saya, 4 yuan sambil ngomong dalam bahasa China yang sekali lagi saya tegaskan tidak ada yang dapat saya mengerti. Dia hanya mengambil 4 Yuan, tidak lebih !!. Ooooo, berarti 1 orang Cuma 1 yuan kata saya kepada teman saya sambil ketawa – ketawa.

Di deretan bangku lain beberapa cewek ABG Beijing tersenyum – senyum melihat adegan kami dengan kondektur tadi. Mungkin mereka geli melihat kami di omel – omelin kondektur bus. Ya, kita terima saja lah, namanya juga di negeri orang.

Di setiap menjelang halte bus, ibu kondektur selalu megucapkan kata – kata yang hampir sama. Mungkin maksudnya kira- kira “kampung rambutan siap – siap”, atau “Pancoran siap – siap” kayak gitu lah. Kira – kira 10 atau 20 menitan kemudian, bus sampai di sebuah halte lain. Halte lain itu maksudnya entah dimana kita tidak tahu. Yang jelas bukan deket – deket lokasi hostel kami deh. Ibu gemuk kondektur bus mengucapkan kata – kata standard nya sambil memberi kode kepada kami untuk turun dari bus.

Tentu saja kami kaget dan bingung. Soalnya dari nama jalannya saja kami gak kenal. Yang jelas bukan di daerah deket hostel kami, saya yakin banget. Tapi si ibu kondektur keukeuh menyuruh kami turun sambil nyerocos dalam bahasa China. Baru saya sadari kemudian mungkin maksud kondektur tersebut saya harus nyambung pake bus lain, kira – kira gitu lah.

Turunlah kami di halte bus “entah dimana” tersebut. Buka lagi peta andelan, cari – cari nama jalan lokasi kami berada di peta. Oh my God, ternyata masih jauh dari hostel. Udah lah, pokoknya lieurrrrr… Akhirnya kita putuskan berjalan kaki mencari stasiun subway terdekat. Berjalan diudara dingin dibawah nol di negeri orang pada jam 7 malam bukan sesuatu yang indah loh, asli, suer. Pertimbangan kami, kalau di subway itu jelas rute dan tarifnya. Subway nya sih sudah kita kuasai hehehe. Pokoknya kalau dalam kota tarif subway 2 yuan kemana – mana. Rutenya muter – muter disitu aja hehehe. Soalnya yang namanya subway itu ya sama aja dimana – mana, di KL, Singapore, sama aja. Lagian hostel kami deket dengan stasiun subway tian’anmen east. Yaaa, kira – kira jaraknya 10 kali tendangan bebas Christian Ronaldo itu hehe. Artinya, deket sih enggak, Cuma kalo dari Stasiun Subway Tian’anmen East kita udah tau jalan pulang dengan cara jalan kaki.

Setelah berjalan selama 15 menitan berbekal petunjuk di peta, akhirnya kami menemukan sebuah stasiun subway. Alhamdulillah. Namun rencana untuk langsung pulang ke hostel kami urungkan karena rute subway kami melewati spot tempat belanja “Wang Fu Jing”. Jadi malam itu kita habiskan dengan berjalan kaki di Wang Fu Jing dan ditutup dengan makan bebek peking yang sangat nikmat.

Halaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.